Friday, December 10, 2010

Tuhan, apakah ini?

Apa yang kamu pikirkan, saat melihat dirinya? Saat harapan agar dia kembali lagi pada kamu bukan impian belaka? Saat kamu merasa bodoh dari yang paling bodoh. Merasa perjalanan panjangmu selama ini sia - sia. Dan tertipu berkali - kali juga tersiksa karena janji untuk menebus dosa.

Apa yang kamu pikirkan, saat ia tersenyum padamu? Saat semua ucapannya dapat meluluhkan hatimu yang lama membeku? Saat semuanya terlupa, akan duniamu dan dunianya, berangan - angan agar ia segera menculikmu dari situ lalu membawamu untuk membangun Bumi yang baru.

Apa yang kamu pikirkan, tentang norma dan estetika? Tentang saudara dan sahabat, tentang solidaritas, tentang komitmen dan tanggung jawab, tentang kejujuran dan ketulusan, tentang menerima dan melepaskan.

Apa dengan semua itu, cukup kamu serahkan semua beban kepada waktu? Agar waktu yang menjawab keyakinanmu, kebimbanganmu, keraguanmu. Apa dengan menunggu waktu bisa merubah takdir yang absurd?

Kamu tahu, dan kamu paham, sesungguhnya ...
Tapi, adakah impian itu ?

Hei, tersenyumlah ... :)
Thursday, December 9, 2010

Bahwa di rumah itu pasti ada kehidupan..

Kamu gak capek lari - lari terus?

Jangan lari lagi,diem aja disitu.
Biar urang yang nyamperin kamu. Dengan berlari biar cepet sampe.
Wednesday, December 8, 2010

Sebelum cahaya

Inget puncak gunungnya dong..ato jalannya sambil nyanyi..

Stagnansi dalam perjalanan menuju puncak.Membuat penyakit bosan saya kambuh.Untuk kemudian dibilang saya perlu mengupgrade kualitas kepribadian.Hmm,untuk sedikit berpikir mencari solusi bagaimana sekarang dan bukan bagaimana ke depannya,mungkin?Hahaha.

Ah,lama sekali rasanya.
Dari yang awalnya saya sendirian di sebuah bukit.lalu turun untuk menikmati hutan dan kunang2nya.lalu mengasah adrenalin dengan kebut2an di jalan.untuk kemudian bersantai menikmati matahari pagi.lalu tersesat di sebuah padang rumput luas dengan seekor rusa yang datang dan pergi.untuk akhirnya terombang-ambing angin ntah kemana kemudian kembali menerima sinar mentari yang menyilaukan.dan akhirnya merindukan kedamaian bukit asal tempat saya berlari lalu berputar untuk menengok nya.klasik sekali,Vidia.
Untuk merasa lelah karena ujung-ujungnya saya ingin kembali tinggal di bukit utara.Yg dulu selalu ditengok,sesekali kembali pulang untuk melepas penat,yang kemudian terlupa atau sengaja ditinggalkan karena kondisi disana tak lagi sama.

Apa impian kamu?

Ah,impian urang terlalu jauh untuk dibenturkan waktu.Urang mau kerja rodi untuk menabung,lalu menimba ilmu d seberang samudra,untuk kemudian kembali mengabdi pada negara.Impian kosong jika menunggu waktu untuk kamu.

Hei,tersenyumlah.impiannya gak kosong..impiannya ga kosong..:)

Ah jadi malu sendiri,karena merasa bermimpi,untuk kemudian terbangun dan menggalau,lalu bermimpi lagi,begitu seterusnya.
Bahwa mungkin memang saya perlu membawa perbekalan yang cukup pada setiap perjalanan menuju puncak gunung saya.Agar jika bosan saya bisa mengabadikan setiap pemandangan indah dgn kamera yg saya bawa,atau duduk sejenak ketika lelah dan terjatuh.lalu memakan berbatang-batang coklat agar siap berenergi kembali.
Mungkin benar seperti itu,ya benar.

Ingatkah engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya?

Ingatkah engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu, cinta ...


[Letto - Sebelum Cahaya]

Ya,saya ingat.Dan mungkin kali ini saya akan selalu membawa kompas.:p
Tuesday, December 7, 2010

Memori dalam memutar Bumi

Berlari,...berjalan berputar-putar,untuk kemudian kembali terdampar di bukit utara.
Menyapa ilalang yang lama terlupa,mengucap kerinduan yang terakumulasi di masa kini,untuk mengatakan impian-impian kosong.
Ya,kosong.Aaaah benarkah?

P.S.:
semoga waktu yang selalu kamu percaya itu menjawab cepat,
jika memang benar jalannya,amin.:)
Saturday, November 27, 2010

There is a light that never goes out :)

Kapal goyang, Kapten! Nyaris karam, hujan badai menerjang. Kita terjatuh, kehilangan haluan, ombak parah menghadang!

Laporkan posisi pada mercusuar terdekat. Minta cahaya untuk sampai ke daratan.

Gelap, Kapten! Parah! Kita hilang arah!

Jangan menyerah, cepat melapor. Cahaya itu pasti datang!

Siap, Kapten!
Mayday, mayday, kapal bintang-bintang melapor. Hilang haluan. Hampir karam karena hujan badai. Minta petunjuk pd mercusuar kami. Krrsk,...,krrr,...,ganti. 
...

Lapor, Kapten! Tidak ada jawaban. Apakah ia lelah untuk tak berfungsi lagi?

Jangan menyerah, malam masih panjang. Masih ada waktu 3minggu lagi untuk sampai ke daratan. Tetap melapor, mungkin hanya tertidur sejenak untuk melepas penat dengan menyesap kopi hitam panas lalu kembali semangat bertugas.

Siap, Kapten! Akan kembali melapor, Kapten! Kapal butuh pegangan!

Krrrsk,...,krsk,... Disini mercusuar, jenderal dari bintang-bintang. Kopi hitam selesai diminum, penuh energi. Jangan lelah, jangan menyerah. Kita jatuh berapa kali pun, bangkit lagi. Kita tidak mudah kalah, tidak akan kalah, dan tidak pernah merasa kalah. Bangkit lagi, bangkit lagi. Aku akan kembali menunjukkan arah, ganti. 

Dicopy, hai mercusuar kami. SEMANGAT! Kapal akan menuju daratan segera.

Lapor, ada balasan, Kapten! Jangan pernah menyerah, semangat! There is a light and it never goes out. :)

"jatuh,turun,bangkit.dijatuhkan dan bangkit.
dikalahkan dan menang.dimusuhi dan mengalah.dihalangi dan berhasil."
karena dibalik kesukaran ada kemudahan..

Bahwa kamu orang tertangguh yang pernah ada.:)

And if a double-decker bus
Crashes into us
To die by your side
Is such a heavenly way to die
And if a ten-ton truck
Kills the both of us
To die by your side
Well, the pleasure - the privilege is mine

[The Smiths - There Is A Light That Never Goes Out]
Saturday, November 20, 2010

Selalu di sampingmu~ :)

Maaf untuk semua ketidakpercayaan, kesedihan, kekecewaan, dan ketidakpercayaan yang terjadi.
Maaf untuk semua asumsi2 yang kubuat dan kaubuat karena pihak2 lain. Karena perambatan kesalahan yg begitu besar.

Bahwa yang sebelumnya ialah hal bodoh untuk membuat kesenjangan di antara kita.
Semua kesedihan itu, sakit hati itu, semua spekulasi tak penting yang ada karena kurang komunikasi.

Saya percaya semua penjelasanmu. Ketulusanmu.
Anggaplah ini menjadi titik penting agar kita saling terbuka lagi.

Sempat aku merasa langitku begitu muram
Hingga dengan takut kuhisap matahariku dalam - dalam
Tapi kucoba dewasa lalu kuhadapi gelapnya
Rupanya awanku hanya semu
Karena kamu sendiri angin yang menghapus semua awan itu

Katakanlah, ... ya be

My smile, hug, and kiss for you! :)
*maaf sudah buatmu menangis he3
Friday, November 19, 2010

(Mengaku) saudara?

Maka katakanlah, bukankah kita (mengaku) saudara ??

Sebut saya masih belum cukup dewasa dlm menghadapi masalah. Atau sebut saja saya masih punya ego yg tidak bisa dikendurkan dalam batasan tertentu. Silahkan!

Tapi jangan menyudutkan atau membuat saya bersalah di belakang saya tanpa kamu pernah sedikit pun mengatakannya pada saya. Karena yang akan terjadi ialah saya akan membenci kamu atau saya akan membenci diri saya sendiri krn bisa tidak peka dan menyakiti kamu.

Saya gak perlu semua terimakasih manismu, gak perlu semua pelukanmu yang berkata 'gue gak tau lagi kalo gak ada lo'. Atau lirikan matamu yang menguatkan mu dalam setiap malam panjang itu, meyakinkanmu bahwa langkah2mu sudah benar, teruskanlah, saya akan selalu ada di samping kamu.

Saya cuma perlu kamu cerita pada saya, seperti bertahun2 yg lalu. Ketika kita menangis sama2 hanya karena merasa memahami satu sama lain. Ketika kamu mengoreksi saya di kala salah, bahwa beginilah yang baik menurut kamu. Saya hanya perlu itu kali ini, untuk memahami kamu lagi. Tidak dengan semua yg manis2 itu.

Maafkan jika semua pengabdian yang saya lakukan ternyata tak sepaham denganmu. Bahwa semua saran2 dari saya kau anggap karena saya dipedulikan sementara kau tidak. Bahwa semua koreksi yang saya lakukan ialah bentuk cibiran2 di belakangmu.

Karena saya pun pribadi yang memiliki pemikiran sendiri. Darinya tentangmu, darimu tentangnya, dari saya tentang kamu, atau dari kamu tentang saya. Bahwa seharusnya begini, tapi rupanya tidak kau jalani padahal harus. Dan di saat batas kesabaran minimum saya muncul, maka maafkanlah jika saya mencibirmu, tak mendengarmu, menganggap kau salah, dan lain sebagainya. Yang langsung hilang ketika kau memelukku, namun rupanya kau tidak. Rupanya diam-diam saya menjadi backstabber bagimu.

Lantas,apa yang harus saya lakukan?
Bisa bertanya pada siapa saya? Siapa yang kini memahamimu?
Yang bisa membuatmu sadar bahwa saya tidak memihak siapapun, saya begini krn saya sayang kalian semua, sayang pada adik-adik kita, agar semua ini lancar dan berhasil.

Tapi kenapa kamu memakai topeng bahkan pada saya?
Sudah begitu jauh kah hubungan kita? Sungguh, saya takut untuk memulai lagi. Karena sudah banyak yang tak saya pahami tentangmu, begitu pula dgnmu bukan?

Tapi kini saya akan mencoba melangkah, untuk meminta maaf pada kamu. Untuk terbuka pd kamu.
Maukah kamu pun begitu?
Katakanlah, saudaraku. Saya masih mau mendengar ceritamu seperti dulu. Jika kamu menginginkannya. :)
Thursday, November 18, 2010

[strong outside - weak inside]

Pada salah satu perbincangan dari sekian banyak obrolan dengan salah satu kakak terbaik:

E: Vid,ada yang nanyain.

V: Oh ya? Nanya apa?

E: Iya,sering nanyain lu. Lu jadi apa, gimana kabarnya.

V: Wah? Kok gak nanya langsung?

E: Ya lu nya juga gak pernah ngabarin langsung.

V: Hehe,iya sih. Soalnya tipenya sama. Tipe yang jarang cerita2.

E: Bener banget Vid.

V: :D

Terimakasih dan sejuta maaf untuk yang selalu menanyakan kabar saya hai kakak terbaik dan tersayang. Terimakasih untuk perhatianmu yang tiada tara. Dan maaf karena aku tak mampu mengabari atau bercerita padamu. Anggaplah itu sebagai bentuk nyata dari kasih sayangku untukmu yang begitu besar sampai salting setiap ketemu gak tau mau ngapain. Bahkan untuk menyapa saja gagu he3.

Semoga dibalas yang berlimpah-limpah dari semua kebaikan mu padaku. Juga dimudahkan dalam segala urusan. Amin. Doaku untukmu hai figur kebanggaan.
(Bahwa jika menjadi 'sesuatu' akan membuatmu bahagia, maka untuk menjadi itu bagimu pun aku rela.:p)
 

Blog Template by BloggerCandy.com