Tuesday, February 26, 2013

Pulang


Pagi ini langit sungguh pekat, sayang..

Dan hujan turun hebat, sederas kangenku padamu yang berada di ujung samudera.
Kamu, yang entah bagaimana. Mampu membuatku linglung.
Melulu merindu, dan menjadi lemah.

Dan boleh jadi, kamu mencemburui angin.
Yang dapat menggapaiku setiap waktu.
Namun aku lebih cemburu pada gelombang.
Yang menyita hidupmu jauh lebih besar bagiannya daripada bersamaku.

Ya, lautan, tempatmu merasa tenang.
Andai aku pun bisa menjadi tempatmu pulang.

Monday, February 25, 2013

Rindu


Aku bukan sedang berpuisi,

juga bukan sednag memadukan beberapa kata rumit sehingga terdengar indah bahkan memabukkan.

Aku hanya menghembuskan kembali apa yang dibisikkan angin lautan berhari kemarin.
Yang kata orang bernama rindu.

Tuesday, February 5, 2013

23 Sabun


Kemarin, saya diramal. Bersama angka-angka dan simbol berjumlah empat untuk menjustifikasi kehidupan. Ada yang bermakna jumlah rasa sayang, jumlah kesuksesan, juga jumlah dukung-tidak dukung.

Kemarin, logika & hati saya berhasil dicampur-adukan dengan mudah. Hanya karena sebuah permainan menggunakan sekotak kartu remi. Sial.

Dan hari ini hujan turun menderas di Jakarta. Membawa memori hari-hari terakhir sebagai belia yang kasmaran. Tersedot dalam status 'bagai dunia milik berdua', melempar realita, sembunyi-sembunyi, untuk menjadi diri sendiri yang lain daripada banyak orang tahu. Untuk menjadi, aku.

Iya kah, aku harus menjadi aku dengan pilihan jalan yang rumit? Aku yang tak lagi insomnia, tak lagi kalap menjerit di kala tidur, yang bangun lebih pagi demi membuat kopi, yang rajin berdandan-wangi.. ialah aku?

Aku. Seperti menemukan, momen menunggu ia yang terlambat pulang.. Untuk berkata selamat datang lalu mengambilkan air putih, untuk kemudian uleng-uleng & mendengar: "Ayah kangen sama Kakak~" :')

*...memilihlah. Jangan sampai merasa tidak memiliki pilihan.
Lakukan karena kau memilih. Jangan karena orang lain atau keadaan.
Dan di tengah tidur mu. Kubisikkan lewat cahaya mentari dihadapku...
"Pagi Cinta..Permaisuri Ratu Hatiku"
Sampailkan lah agar menjadi kehangatan di pipi mu.



♪ I call baby up. Leave me alone.
I'm in pain but I won't let you band-aid the wound
I'm mad at a stage where I can't even handle my own
Give me a quiet mind and I...
I love you
You give me a quiet mind and I...
I love you
Until the end ♪
[Blue October: Quiet Mind]

Saturday, January 26, 2013

Orca


Ini gabungan perasaan, dari malu yang menggugu bercampur aduk dengan gelisah yang mengakar masuk menembus tulang.

Sebut saja, sesak. Akibat jantung yang berdetak kencang setiap kau berbisik lembut. Mengisi nadi hingga penuh. Lalu tumpah. Sesak, karena tidak mengizinkan sedikit pun ruang kosong disana. Sesak, karena penuh, karena tumpah-tumpah. Karena, terisi.

Sesak yang melemahkan. Yang melumpuhkan. Karena terkait dengan sedikit-sedikit ketakutan juga gelisah yang mengumpul pekat. Dan demi para kurcaci yang menari, aku luruh. Melebur dalam iramamu yang tak stabil. Menjadi tangga nada. Menjadi lagu-lagu. Menjadi secangkir ABC susu hingga lagu pelantun tidur. Kamu ada, dimana-mana. Begitu menakutkan. Ketakutan yang menenangkan.

Aku memang peragu, juga pengecut. Akan karakter yang harus kupunyai demi dunia itu. Aku yang berantakan, yang belum bisa bertanggungjawab sepenuhnya akan diri sendiri. Yang mengurus anak kucing saja belum bisa apalagi balita. Kenapa... Kenapa, aku?

Aku juga ingin kamu. Sesama alien yang dititipkan turun ke Bumi untuk menyelamatkan dunia. Kamu yang juga memelihara banyak orang di kepala. Yang mampu memahami bahasa-bahasa alam, pun mengerti elemen-elemen semesta.

Tetapi, bisa kah aku. Bisa kah?

#semut itu buta, lalu mengapa tega mengacaukan jalan mereka?

Sunday, January 13, 2013

Bola Salju


Menikah & berkeluarga. Dua kata yang mengerikan bagi saya akhir-akhir ini. Saat dimana kehilangan kepercayaan diri untuk melangkah ke arah sana bahkan untuk menetapkan pasangan hidup. Ya, saya mulai menyerah.

Banyak yang datang & pergi. Setelah yang lalu-lalu itu telah lama terlewati. Setelah hati yang kebas bisa merasa lagi. Setelah, perjalanan panjang keliling negeri. Dengan momen pertemuan dengan banyak orang dan karakteristik yang berbeda-beda, pemikiran saya mulai terdistraksi untuk berkata: "Masih perlukah saya menikah?"

Banyak orang sok tahu, orang yang menjustifikasi dengan sebelah mata, orang yang kebelet ingin tahu lalu memberi saran gak penting, orang-orang yang hanya kenal selewat tapi sudah merasa bijak. Atau mungkin..., orang-orang yang iri hatinya? :))

Karena, saya tidak menginginkan apa-apa. Saya hanya butuh pundak untuk sesekali bersandar, lalu membiarkan saya berlari lagi. Karena itu, mungkin siapa saja boleh. Siapa saja boleh. Siapa saja yang tidak makin membuat saya lelah atau merasa lelah dengan saya yang terus berlari. Siapa saja boleh..

Siapa saja boleh.

"Duh, urang kok makin gak pengen menikah yak?" |
"Setuju Vid, urang jg merasa gak usah nikah!" |
"Curang. Sudah pernah kan jadi bisa santai ngomong gitu?"
*berlanjut pada adegan injak kaki

Ibu.. Aku ingin menghilang. Lalu muncul lagi tanpa harus menjadi siapa-siapa.

Tuesday, January 8, 2013

Opera Sabun


Saya memiliki dunia sendiri, yang selalu ramai.
Berisi orang-orang yang ribut berdiskusi, berargumen, berasumsi ini dan itu.
Mereka hidup, naik dan turun.
Bahkan saat saya tidur. Mereka mendominasi mimpi-mimpi menjadi loncatan partikel yang melaju cepat.
Mereka, membuat saya berpikir di alam bawah sadar.

Terkadang saya menepuk pundak mereka satu per-satu.
Berkata jangan berpikir berlebihan.
Yang dijawab dengan anggukan juga oh panjang namun kemudian berisik lagi.
Memunculkan asumsi juga emosi yang meluap tumpah seperti sebuah gelombang sinusoidal.

Dunia saya ramai. Kepala saya ramai.
Terlalu ramai jika juga harus diisi oleh kamu.
Kamu dengan orang-orang dalam kepala yang dipelihara hingga sama ramainya.
Memenuhi udara, membuat sesak.

#Hari ke-30 terasing dalam kotak besi berukuran 56x12 meter.

#Mahakam, dalam perasaan kecewa karena membuat malu diri sendiri.

Friday, December 21, 2012

Peluk


Hari ini dan kemarin masih sama. Sejak detik saat saya menyadari satu hal dan memutuskan berhenti, kembali berhenti memercayai orang asing. Berhenti untuk takjub pada sesuatu yang dinamakan kebetulan dan konspirasi alam semesta untuk sebuah perjalanan. Berhenti, pada titik tidak mengenali dan tidak merasakan apa-apa.

Hati saya mungkin memang sekeras itu. Untuk mudah membatu karena tersenggol di bagian paling sensitif, tentang keluarga. Bahwa bagi saya tidak ada toleransi untuk menyepelekan masalah oranglain seberapapun kecilnya bagi kita. Bahwa bagi saya tidak ada toleransi membandingkannya dengan masalah sendiri untuk kemudian merasa bahwa cerita saya lah yg paling hebat. Bagi saya, tidak ada toleransi, terlebih ketika orang tersebut jarang sekali bercerita mengenai hal-hal yang paling pribadi mengenai dirinya.

Dan perjalanan membawa saya pada suatu pendirian dan ketetapan hati. Untuk kembali menjadi sekeras batu. Begitu saja. Tidak terselamatkan.

Terimakasih. Untuk pemicu menjadi tahap pendewasaan. Untuk pemicu akal sehat, yg kemarin melambung jauh melangkahi rasionalitas karena sebuah harapan. Harapan tentang impian yang semakin menjauh.

Dan di saat-saat ini ketika pekerjaan mengambang akibat sistem, di saat jam malam membuat pikiran saya terbang berlarian kesana kemari. Beruntung saya masih bisa bercerita dan mendapat asupan energi dari kakak lelaki kehitaman saya yang manis tetapi menyebalkan karena terlalu sering khawatir untuk hal yang tak perlu. Tenanglah, saya ini lebih tangguh daripada seekor kuda liar. :D

Untuk prosesi kala mendengar apa yang tak terucap, merasa apa yang tidak diperlihatkan, juga berbagi energi positif yang menghasilkan senyum. Saya berjanji, tidak akan pernah menyerah. :)

Kamsha hamnidaaaa. Transfer berton-ton energi selesai dilakukan. Karena kita ialah keluarga, selamanya~

P.S.:
Juga berton-ton kangen untuk Oom dan Tante yang berbahagia atas lahirnya fkecil-junior dengan sempurna. Semoga, masih ada kesempatan bagi saya untuk mengikutinya tumbuh besar. Amin. :D

*Di bawah sungai bintang perairan Mahakam, merasa hangat dengan jaket pinjaman yang wangi.

Monday, December 3, 2012

S(e)tabil(o)


Dalam perjalanan riuh di Ibukota malam itu, seorang teman sejak lama - yang entah mengapa akhir2 ini diperebutkan oleh vampir betina juga gadis penggembala sapi (yang entah mengapa saya ujug-ujug disebut di dalam ceritanya) - bertanya ringan pada saya:

"Maneh, sudah stabil belum?.." |
"Eh? Dari apa?" |
"Yang waktu itu.." |
"Oh! Sudah. Sepertinya." |
"Siapa yang membuat maneh stabil?" |
"Hmmm.. Waktu. Juga lingkungan, termasuk kalian kan? :)"

Baik dalam rekan kerja yang bersekongkol menghapus memori tercetak secara diam-diam juga melarang habis-habisan jika saya mulai menyanyi lagu galau. Baik dari keluarga yang menertawakan kenapa mesti mentok sama yang meninggalkan pergi. Baik dari teman-teman terdekat yang siap sedia setia saya pulang ke Bandung demi sekedar karaoke atau berhaha-hihi hingga pagi. Yang rupanya setelah setahun (?) berhasil menghantarkan saya pada suatu sikap "ealah dia doang" lantas tertawa terbahak bila mengingat kebodohan yang pahit itu. Karena waktu, dan semesta di dalamnya mendukung saya untuk berdamai. Berdamai dengan hal-hal yang menyakitkan.

Meski hingga kini, sifat jahanam saya masih merangsek untuk bercanda mengamini subjek-subjek yang nilai-dia-bagi-saya-telah-berubah-sejak-saat-itu akan hal konyol. Seakan mengalami distraksi cara memandang seseorang. Yah begitulah. Hehe.

Dan si teman sejak lama ini hanya mesam-mesem akibat adegan sikut perhatian yang dilebih-lebihkan. Karena, perasaan sih, saya tidak sedang merebut siapa-siapa saat ini. Wkwkw.

Beruntunglah, diharapkan membelah diri menjadi tiga oleh wanita-wanita yang (mayoritas) luarbiasa. Karena, entah apa yang terjadi, jika Anda tidak ada disana, sebagai kapasitor kami. :D

P.S.:
Sebagai pesanan untuk menggenapi yang sudah-sudah. Teruntuk tempat pulang semua orang gelisah, yang mana telah menjadi psikolog tercanggih sedunia. Temkyu!

 

Blog Template by BloggerCandy.com