Friday, June 21, 2013

Ganjen


Salah satu korban ke-gaje-an saya akibat 51 hari menganggur di darat~
Oh Tuhaaaan! :))

*Kakong Ganjen*

Friday, June 7, 2013

Patience


Beberapa lama ini memang saya sedang mengasingkan diri. Sedang sibuk mengurusi masalah sendiri, menata dan membangun hal-hal pribadi, dan secara sengaja tidak bersosialisasi. Bahkan untuk sekedar bertanya kabar dan mengajak bercengkrama pun enggan.

Ada yang berkata karena saya sudah merasa sempurna, sudah memiliki tempat pulang. Karena keberadaan kakak lelaki manis kehitaman yang penuh kontroversial sehingga memberikan sensasi kejutan listrik, wahana fantasi, dari mulai yang bahagia-bahagia nya hingga seram-seramnya. Saya entah memiliki lawan yang berwujud apa, yang pasti ialah spesies sakit jiwa yang bahkan berani membawa-bawa nyawa manusia.

Berkali saya tergugu, merenung. Mengingat Ibu, Ibu, Ibu. Untuk menegang dan waspada melihat aksi-aksi sekecil apapun. Tolong, jika memang jalannya, biarkanlah semesta yang mengambil alih. Agar tidak ada yang bisa mencampuri tangan Tuhan.

Saya, hanya sedang mencoba berdamai dengan dunia.
Please, God. Just let it be.




♪ Just hold me close
Inside your arms tonight
Don't be too hard on my emotions

'Cause I need time
My heart is numb, has no feeling
So while I'm still healing
Just try and have a little patience  ♪

[Take That: Patience]

Monday, May 20, 2013

Melodrama


Sebuah momen unik terjadi pada senin petang di sebuah warung kopi, yang biasanya banyak orang bercengkrama, berbicara bisnis, atau bahkan tempat bertemu bapak berumur dengan anak semalam nya.

Sebuah bisik sengit terjadi di depan saya, yang diakhiri dengan adegan menggebrak meja, meretakkan tatakan keramik, lalu gelasnya dilempar penuh emosi hingga lantai. Saya terpana sesaat, lalu menguasai diri hingga tersenyum konyol. Adegan sinetron apalagi ini?

Nak, berhentilah mendekati masalah. Apalagi terlibat di dalamnya. *terbahak hingga menangis

Tuesday, May 7, 2013

Another Paradise: Kep. Raja Ampat


Siang itu, saya dan empat orang Abang-abang geje yang hampir semuanya bujang *****, memutuskan mengambil kesempatan curi-curi dan sedikit tipu-tipu untuk bertualang ke salah satu destinasi impian yang.. katakanlah, bahkan menyangka harapan saya akan terkabul pun sedikit sekali. Hihi.

Pasalnya, kebetulan sekali, proyek kali ini berlokasi di Salawati, Papua Barat. Yang hanya berjarak sejengkal saja dari Blok Raja Ampat (Fyi, Pulau Salawati dibagi menjadi dua, yang mengandung minyak ditarik menjadi bagian Kota Sorong, sementara sisanya dimasukkan dalam gugusan Kabupaten Raja Ampat). Yang hanya berjarak dua jam perjalanan Sorong-Waisai menggunakan kapal penumpang seharga Rp 120.000,-

Pertama kali menginjakkan kaki disana, di Waisai (Ibu Kabupaten Kep. Raja Ampat), saya sungguhan speechless. Kondisi lokal disana sungguh jauh dari kemegahan dan kemewahan yang ditayangkan di televisi maupun liputan travelling. Resort, Cottage, maupun pelayanan boat mewah hanyalah segelintir yang diletakkan di beberapa penjuru yang bisa dinikmati dalam bentuk paket bagi turis yang berdompet tebal. Pfffft. Selamat datang di Bumi Cendrawasih.

Dari segi fasilitas yang bisa dirasakan umum masih jauh dari terkoordinir, masih jauh dari pengelolaan ideal bagi kekayaan alam secantik itu. Sangat disayangkan. Pemilik salah satu rumah hotel yang kami inapi (yang Ibu-ibu penjaganya mata duitan, nasi telor kecap sama harganya seperti ayam bakar porsi jumbo + nasi mentung + tahu + sambal mantap + es jeruk --"), mengaku kewalahan mengejar berita mengenai kepulauan mereka yang dipublikasikan ke publik. "Terlalu tinggi, di ulangtahun yang ke-10 ini, kami merasa jatuh-bangun mengejar image yang digemborkan televisi", ungkapnya.

Kepulauan Raja Ampat, yang dari ratusan pulau hanya beberapa pulau yang berpenghuni, yang jarak antara satu dengan yang lainnya hanya bisa dijangkau dengan boat bermuatan solar yang berharga sangat mahal (kalau tidak salah 1 drum solar isi 200 liter bisa mencapai angka 3juta~). See, itulah mengapa wisata disana sangat menguras lembaran rupiah. :((

Dan dengan pengetahuan lokasi-lokasi tujuan yang minim, dan budget yang seadanya, akhirnya paket yang kami ambil hanyalah paket 7 spot snorkeling satu hari penuh (3,5juta/boat) di hari pertama dan paket Wayag (Ikon Raja Ampat) di hari kedua (5,4juta, seri paling murah karena pakai perahu abal-abal dari dinas pariwisata).

Bagi saya pribadi, perjalanan kali ini seperti menemukan keindahan yang tak terduga bisa ditemukan di kawasan pesisir dan perairan. Distraksi rupanya tidak hanya bisa ditemukan di puncak-puncak gunung, tapi juga di lembah-lembah lautan. Kawan, dunia bawah laut sana sungguh begitu mendebarkan hati.

Meski setelahnya saya harus mengirit menghemat sebulan penuh, dan sepulang darisana mendapat kabar mengejutkan bahwa selama saya berlibur kakak lelaki kehitaman manis nyebelin saya rupanya sedang sakit parah, tapi.. ribuan imaji yang terekam jauh menembus otak, ribuan keindahan memesona yang meresap jauh ke dalam hati, sungguh menjadi suatu harta yang bisa saya rasakan hingga detik ini. Terimakasih, atas kesempatan yang Kau berikan, mengecap besarnya semesta-Mu. :)


Waiwo
Pasir Timbul Bianci

Mangkur Kodong

Sail to Wayag


Wayag

 

  
Pasukan Sakit Jiwa

BROCHURES:





 PS:
Siapa yang takkan iri? Hihi~
*edisi sombong & congkak :))

Dokumentasi:
https://www.facebook.com/vidiachandradewi/media_set?set=a.10200908652506005.1073741828.1456038140&type=3

Situs:
http://www.gorajaampat.com/
http://www.xray-mag.com/pdfs/xray06/X-Ray6_Adobe6.pdf
Wednesday, April 24, 2013

Gift


LOVE, MISS, & ALWAYS

Tuesday, April 23, 2013

Labil


Cinta.. Hari ini aku menangis.

Entah yang ke berapa. Berlebihan.
Sedang sangat cengeng.
Mungkin karena tidak ada sinyal berminggu-minggu.
Manja-ku sedang kumat.

Gabungan rasa kangen dengan manusia di luar sana.
Ingin pulang ke rumah, merasa seharusnya ada di Bandung.
Sedang merasa capek kerja dan culun-culun lainnya.

Tapi sudah.
Setelah semua emosi keluar, kelelahan dan tidur.
Aku lupa dengan semuanya.
Untuk kembali bersemangat.
Untuk kembali berbahagia.

Karena bisa membahagiakan orang-orang yang disayangi dnegan cara ini.
Meski tidak ada saat dibutuhkan.
Meski harus hidup terasing.

Cinta, jangan pernah lelah dan menyerah.
Walaupun aku lemah, culun, dan tak memiliki bakat apapun.
Akupun tak mengerti, mengapa kau bisa kesengsem denganku yang minim kelebihan.
Yang kutahu, aku bahagia bersamamu.
Dan tak ingin kamu pergi kemana-mana.

Amin.

Layar


Di musim yang berangin ini aku sedang banyak bertanya.
Bertanya pada dasar lautan hijau yang keras dan berundak-undak.
Bertanya pada pesona langit yang melulu berubah setiap waktu.
Bertanya pada kubah Bumi paling besar yang pernah kutemui.

Aku bertanya, pada burung layang-layang yang tinggi mengangkasa.
Untuk apa, bila meski sudah memiliki sayap pun.. aku tetap tak bisa terbang tinggi?

Aku bertanya, pada bintang yang bertabur hingga satuan ribu di pekatnya malam.
Untuk apa, bila bintang yang paling bersinar terang pun, yang atuh cepat mengejutkan mata pun, tetap tidak bisa mengabulkan permintaan karena berjarak jutaan tahun cahaya dalam semesta?

Aku bertanya, pada bianglala raksasa yang membias ganda di kala deru gerimis yang kencang.
Warnanya sempurna, bahwa memang berjumlah tujuh.
Ah.. untuk apa, jika ternyata tiada emas di ujung-ujungnya?

Mematahkan impian-impian kecil yang berlari lelah menggapai tempat tinggi.
Mengaburkan semangat di pemimpi bodoh yang ingin berkarya menggemakan dunia.
Untuk apa?..

Namun, di waktu setengah empat pagi ini,
Di waktu aku sedang menuliskan bait putus asa dengan posisi menghadap jendela popeye yang tak pernah berdusta.
Sebulat penuh kuning purnama yang menggantung rendah menari dalam riak kabut fajar.
Sembari bersiap untuk tenggelam, seakan menertawakan aku yang lemah jiwanya.. hatinya.. pribadinya.

Nikmat Tuhan mana lagi yang kian kau dustakan?
Subhanallah..



***
Ditulis pada hari ke-15 mengarungi penghujung timur Indonesia.
Oleh aku yang sedang kecewa.
Kecewa pada diriku sendiri.
Yang lagi-lagi merasa ingin menghilang, untuk kembali tanpa harus menjadi siapa-siapa.

Ayah,...
Aku ingin pulang.


P.S.:
Hai bulan, terimakasih untuk cara yang entah ke sekian kalinya, kembali menguatkan.
Maaf mengecewakanmu.


 What doesn't kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn't mean I'm lonely when I'm alone
What doesn't kill you makes a fighter
Footsteps even lighter
Doesn't mean I'm over 'cause you're gone  

[Kelly Clarkson: What Doesn't Kill You]

Sunday, April 21, 2013

Firefly


Kau tahu,

di lautan pun aku bisa menemukan jutaan kunang-kunang.
Berkejaran, berkelap-kelip.

Mereka lah bintang,
yang bercahaya dalam kubah temaram.

Membuat rindu,
akan imajinasi kita kala terakhir menatap langit.
Yang berpendar memesona.
Sungguhan rindu.

 

Blog Template by BloggerCandy.com