Saturday, October 19, 2013

F*ck you


"I know you so well, bro.." |
"I know you so well too. Hahaha.." |

"Yes i know you so well that you always missing me.." |
"Huahaha. You know i know lah. We same same know lah.." |

" Azeek urang screenshot dan sent directly to your girlfriend!" |
"Taiiiiiiiii!"

Cih. Boys.
Never grow up.

Thursday, October 10, 2013

Untitled



Hei.
Saya BUKAN manusia kenangan itu lagi.

Momen saat saya ingin berteriak dan membakar jaket itu.
Saat senior M dengan pongahnya berkata di lapang adu domba bahwa mereka tidak pernah bikin anak orang mati.
Saat senior M lagi berkata bahwa saya tidak sayang dengan mereka dan ingin menabrakkan kepala nya hingga pecah ke papan bertuliskan 'pengecut tidak layak di mereka'.
Saat pandangan mengabur lalu teteh bilang berulang samar-samar untuk sabar dan saya ingin bertanya 'mengapa' tapi tidak ada satu pun kata yang bisa keluar.
Saat saya hanya satu betina di antara segelintir jantan yang jongkok bertahan di malam itu dan ingin menampari teman saya satu-satu yang culun menyerah pindah ke seberang barisan.
Saat saya kehilangan 10 sks dan mendapat ip terburuk akibat kehilangan seorang saudara.
Saat-saat saya membantu melunasi hutang lalu berlanjut ke arah yang salah, dengan mengorbankan silaturahmi dengan orang-orang dekat.
Saat tepat hari ini 3 tahun lalu, merenggut dengan paksa yang berharga untuk pergi.

Saat-saat kecewa, marah, dan memberontak.
Saat saya hanya pasrah dan memilih mengalah.

Momen dimana ingin pergi memutar waktu, membalikkan masa lalu, dan merubah takdir.

Masa yang telah berlalu. Pergi jauh-jauh.
Saya hidup di masa kini, yang lalu relakan sudah.
Pergi. Enyahlah.

Wednesday, October 9, 2013

Dilema


Aku sedang tidak bisa berpuisi, karena berada di tengah kumpulan bocil dengan aku sebagai super bocil rasanya sungguh lelah luarbiasa. Antara ingin beradu argumen, tapi dengan ilmu yang seadanya.. rasanya, penat.

Mungkin ini mengapa para leluhur selalu berpesan utk menjadi geodet. Bukan surveyor, apalagi operator. Karena seperti membohongi dunia dgn ilmu mahal yg seharusnya bisa kamu kembangkan begitu besar. Poor ya, Vidia. Kamu belum kemana-mana rupanya. Hhhh.

Kuatkan hati, bulatkan tekad.
Untuk menyongsong masa depan!


Apanya yg kepingin cepat dilamar kalau yang kamu punya bahkan tak lebih besar daripada kuku jari!? Hiks.

Saturday, October 5, 2013

Klausa


Disaat resah gelisah gundah gulana seperti ini, saat akan melaut tapi tak bisa bertemu menabung semangat. Dilengkapi judul pekerjaan baru yang meski turun jabatan dengan jumlah produksi lebih padat. Rasa-rasanya mendengarkan lagu ini cukup bisa mendistraksi. --"



♪ Sunny, happy rhythm music, no money
I'm takin' you on holiday
Sipping yellow lemonade ♪

[Alexandra Stan: Lemonade]

Thursday, October 3, 2013

Dengki


Yang paling enak itu, memang ketika sudah seenak jidat menjustifikasi orang sih, ya.. Ketika merasa sudah paham orang itu lalu skeptis kalau orang gak pernah grow up akan sifat buruknya.

Contoh, saya pernah merasa kenal seseorang. Orang itu pada suatu ketika memecahkan vas keramik kesayangan saya yang buatan CHINA.

X: " Duh kok kamu gak bilang sih cyin kalo itu vas kesayangan, tau gitu kan gak aku pinjem buat kepentingan aku."
Y: "Yah udah pecah juga sih, terus sekarang gimana?"
X: "Kalo sekarang yaudah terlanjur, anggap aja itu vas nya emang punya aku yah yah yah?"
Y: ... -________-

Nah, jika seorang ini, tipikal oportunis korodokinensis, di masa kemudian mau ambil badan buat oranglain, lucu gak kalau saya percaya? :))

Ah, kita ini kebanyakan pemikir, konseptor yang handal! Berapa sih, yang mau bergerak untuk kepentingan bersama? Banyaknya sih, maaf, ikut aja, cari aman sama yang menggerakkan. Bicara saja yang jago tapi pada gak punya t***t.

Come on, kalau memang kita sudah grow up semua, mana?
Saya sih, gak ikutan ah. Takut sakit hati. :))))))))))

Saturday, September 28, 2013

Borjuis



Beberapa di antara mereka menatapku lama, lalu menebak instan dengan tepat.
Ah, iyakah wajahku semirip itu?

Saat ini aku sedang berada dalam sebuah pernikahan megah kaum borjuis. Demi silaturahmi, rela bangun pagi dan rela pula untuk mondar-mandir berjam lamanya menggunakan pakaian adat bersunting yang membuat kepala sedikit nyeri dan gatal. Tuhan, semoga meski jodohku orang Minang, aku tak mesti menggunakan pakaian mengerikan semacam ini. Please?

Nuansa pelaminan itu merah dan emas. Dengan lampu temaram romantis menghiasi seisi ruangan. Bunga warna-warni, dekorasi cantik, yang beberapa orang penting berkawal aparat berseragam duduk secara ekslusif di kursi vip. Kaum borjuis melenggang dimana-mana menyesakkan ruangan, saling pamer pakaian pesta nan wangi. Cih.

Sebenarnya aku benci berada di tempat ini, berada di antara mereka membuatku alergi. Karena banyak pihak yang mencari muka. Kerabat yang terhitung bersilsilah jauh, entah itu saudara-saudara dari sepupunya sepupu paman nya siapa.. malah terlihat lebih sibuk dan lebih berisik dari keluarga inti. Memeluk dan menyapa setiap orang, ingin terlihat dikenali oleh seluruh tamu, cih (lagi). Apa ada yang salah dengan dunia ini?

Pffft. Andai, orang-orang ini kelak berguna untukku. Orang-orang yang menyapa basa-basi karena ada hubungan darah. Bukan hanya sekedar terpaksa demi menyambung silaturahmi.




Wednesday, September 25, 2013

Mafia vs Penyanyi Dangdut


Sebuah tukar pikiran di suatu malam sengit, saat sang visioner menggerutu berlebihan tentang pemikiran pembuat sistem negeri ini, dengan lawan si pemuja Bang Oma yang menimpali sekenanya.

Me: "Kalau misalnya, Capres cuma ada ARB dan Rhoma Irama.. Mau milih yang mana?"
He: "Ya Bakri lah, jelas!"
Me: "Ah kok gitu? Kan dia mafia? Profesor kita aja diancam dibunuh kalau nyebarin berita benar tentang banjir lumpur kemarin. Cih"
He: "Tapi negeri ini tuh mending dipimpin mafia. Kayak jaman Soeharto, meski hutang negara lebih banyak tapi yang korupsi cuma satu orang. Gak kayak sekarang, semua orang korupsi."
Me: "Hmm.. Tapi kayanya kalau Bang Oma yang kepilih lebih seru deh. Nanti pidato kenegaraannya pasti selalu dibuka soneta group. :))"
He: "..."

Stupid.
Sunday, September 22, 2013

Memori


Malam itu dimeriahkan oleh adikku yang berteriak ribut saat tim sepakbola yang entah sejak kapan menjadi kesayangannya, dibobol bertubi-tubi oleh lawan. Si Setan Merah, sebut saja. "Ah kamu, sejak kapan suka mereka? Seperti si itu saja," aku berceletuk ringan. Si adik hanya cekikikan meledek. "Masih ingat saja!"

Yah, berjuta memori yang terlempar dari masa lalu, memang terkadang melekat begitu saja dan tak mau pergi. Bagaimana tidak, bukankah orang itu yang dahulu mau menemaniku dalam ritual rutin Senin-Kamis. Melewati lorong sepi yang bercampur bebauan yang memuakkan. Mau diakui atau tidak, dia pernah sangat berjasa bagi keluarga kami.

Lalu Ibu menimpali,
"Eh iya dia sudah kerja belum?" !
"Kata rerumputan sih sudah, di pulau seberang." |
"Ohya? Ibu prospek asuransi ah!" |
"Coba aja hubungi, barangkali masih ingat sama Ibu. Hihi.." |
"Iya ya. Siapatau mau masuk kayak si Anu. Ah, tapi Ibu sakit hati sama si Anu teh. Belegug."
 
Memori lagi.
Ialah suatu momen ketika pertama kalinya si Anu mengantarku pada salah satu ritual di kala itu, dan menawarkan untuk mengantar kami ke rumah jika sudah selesai. Tapi yang dilakukannya hanyalah duduk sebentar, salam sama Ibu, lalu gelisah untuk kemudian pamit dengan alasan penting ada acara bersama teman. Iya, dia lupa akan ucapan yang menurutku penting, terlebih tidak menengok Ayah sama sekali. "Aku takut.." itu dalihnya dahulu. Perkataan yang memecahkan suatu sentimentil yang mulai terbangun pelan-pelan. Hancur.

"Si Ini sama si Ieu juga kemana yah, ah apalagi si Eta.. punya pacar baru langsung menghilang ya?" Ibu meracau. Memanggil-manggil memori.

Hmm. Mungkin memang lelaki begitu. Tipikal yang ketika memiliki maksud mendekat dan menawarkan bantuan. Tapi ketika sudah merasa tidak ada harapan, menghilang begitu saja. Membikin si Ibu kangen, wkwk.

"Sudah, nanti aku bawa satu yang bisa menggantikan mereka semua. Sebuah paket lengkap," ujarku terbahak.

 

Blog Template by BloggerCandy.com