Friday, July 6, 2012

Guling


Sebuah tebak-tebakan tentang hati seseorang yang terkenal dengan misteriusnya. Yang hanya bercerita pada satu orang, dan yang lain cuma bisa memandang nya sebagai ketidakjelasan. Ah, saya tetap menghormati Anda.. bagaimanapun sulitnya untuk mengerti. Hehe.


Malam itu seperti biasa diisi dengan proses menggoyangkan ribuan beam, yang kini tidak bebal, dan jauh lebih mengasyikkan. Masalahnya hanya satu, keterbatasan PC dalam mengolah data, yang hanya bisa saya akali dengan solusi konyol seperti mengelus-elus atau menyemangatinya layaknya manusia. -______-

Selepas tengah malam pun berlalu begitu saja, dan perut-perut yang lapar diobati dengan mie goreng telur plus es manis di sebuah warung kopi pinggir stasiun. Saya hanya banyak mendengarkan kali itu, tercengang-cengang, dan menatap takjub atas kisah abnormal yang diceritakan. Alhasil, saya menumpang bermimpi di sebuah kamar mahal nyaman ber-ac, yang bisa tidur nyenyak dengan berselimut tebal. Tidak seperti di Jakarta. :))

Sosok misterius ini hanya saya kenal sepintas, hanya tahu masalahnya sepintas, enggan bertanya dan mengorek lebih jauh karena segan. Saya hanya berekspetasi dan berasumsi dari gosip atau kabar yang melaju sesekali, atau kepingan cerita langsung yang terhitung kurang dari jumlah jari. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik, berpikir positif dan memercayai beliau sebagai seseorang yang sangat tahu bahwa yang dilakukannya ialah bukan suatu kesalahan.

Dan suatu dering alarm di pagi hari yang terdengar sayup-sayup membuat saya menyadari satu hal yang sebelum ini mengira hanya sebagai sikap mati rasa, ketika senang pun hanya tertawa biasa, dan sedih pun tidak menangis. Sebuah lagu:


Saya.. harap, kalian baik-baik saja. Sebaik adanya.
Bukankah dia ganteng sekaliii? :) *bukan pedofil, sumpret!


 I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we made for two? ♪  

[Maroon 5: Payphone]

Multi zahara pisun.. --> Mulutnya pedes betul
Embur cucokkkkk! --> Emang bener

Tuesday, July 3, 2012

Ke'AKU'an


"Ngils, aku bingunggg!" | "Mengertii, paham kok kan kita mirip.." | "Iya, kita semua hareuras sih, 11 - 12, ke'aku'annya gede hahaha.." | "Karena itu cuma kita yang ngerti Na, orang lain cuma bisa bikin gosip. Hihiii"

Suatu pembicaraan sekira 60menit via media telepon di sela kerja kantor, dgn seorang teman lama yang katakanlah, pernah dididik menggunakan metode arogansi romantisme pada suatu masa. Yang melahirkan cara pandang berbeda dan cenderung (terlihat) menyimpang. \m/

Pertama, merasa tidak butuh.
Apalagi yang bisa ditawarkan seseorang pada individu yang sudah nyaman dengan kemandirian tanda kutip nya. Ketika mau jalan mudah, mau makan mudah, mau perhatian tanpa diminta pun mudah? Gilak, pangkat 10.

Kedua, keras hati.
Sulit bukan, mendapatkan sifat air yang gigih menetesi satu titik pada batu hingga bisa berlubang. Idealisme itu sampah, pejuang sejati hanya ada pada kisah yunani atau telenovela. Kepala batu, pangkat 10.

Ketiga, besar ke'aku'an.
Mengerti kan maksudnya? Kala 'aku' jarang sekali bisa memosisikan 'kamu' di dalam 'aku'. Jarang sekali bisa memosisikan 'kita' di dalam 'aku'. Kala 'aku' ingin menemukan 'aku' sehingga menjadi 'aku' kuadrat. Begok. Bodoh, pangkat 10.

"Semangaaat. Pasti ntar kita ketemu mr.right. We shall overcome. Hihii."

Ahhh, I really really really love you, rangers. Karena kamu-kamu mengerti. Tanpa harus bicara, bahkan dengan merasa. :)


Ps:
Sepertinya, saya sudah menemukan bunglon.. Sepertinya, meski biasa saja wkwkwkw. :p


Published with Blogger-droid v2.0.6
Saturday, June 30, 2012

Cancer


Kamu biasa saja. Ntah datang darimana, latar belakang apa, semua serba abu-abu.
Kamu hanya memancing dalam diam, sesekali menggoda, tak bisa makan nasi di gunung, mengaku masuk angin, dan mengucap kata 'see you' saat berpisah. Ya, kata sakti itu yang biasanya kutanyakan, kini tersebut begitu saja.
Terakhir kau hanya bawa batu-batu kali sebagai pijakan agar tak basah. Tersenyum girang sendirian, lalu membuka telapak tanganku tanpa arti.


Sudah. Begitu saja. Entahlah. Meski kita sama dalam hal angan memelihara kuda atau berlari bersama anjing-anjing besar. Sama dalam hal berangan membesarkan anak di gunung. Namun beda dalam nasi, dalam bau tanah yang wangi, dalam kopi hangat atau es kopi, juga dalam filosofi rokok atau bir.
Ah kamu, calon bapak guru yang tak senang mengajar, yang perbincangan kita selalu diisi tawa tak henti. Apa kabar?

Biasa saja. Sesungguhnya biasa saja. Ya biasa saja.
Sunday, June 24, 2012

Djarum Super


Secara kebetulan, rokok kesayangan Ayah saya sekarang iklannya sungguh juara. Membuat iri siapapun yang memiliki impian menjelajahi Nusantara. Nyeraaaaaah~





Ps:
Belum berhasil mendapatkan video iklan terbaru yang jadi sponsor Euro 2012.
Yang itu beneran nyeraaaaaaaaaaaaaaah~
Saturday, June 23, 2012

Lily


Hai, selamat Sabtu pagi buta.


Perkenalkan, teman saya Marry.
Berkulit bening, berwajah lebih menarik daripada kumpulan artis dadakan khas kota besar, berkepedulian tinggi, gampang berbaur, dan disenangi banyak pria.


Sayang, Marry selalu merasa sepi. Dia merasa belum bahagia sempurna.
Marry sebatang kara di ibukota. Pun ada kekasih, tapi tak nyata. Laiknya hidup nomaden, Marry menguasai ribuan bahasa. Ribuan kepala dia selami, tak henti-henti. Hingga tetangganya bosan, berapa banyak lelaki lagi yg kan kau kenalkan pada kami hingga salah satunya menetap di kota kecilmu.. Marry?


Dikata tak setia, tapi Marry memiliki sebuah boneka. 
Yang usang juga lama, pemberian ayah ibu ketika balita.
Selalu dibawa, kemana-mana.


Lalu apa kesalahan Marry? Hanya satu, perubahan.
Marry begitu naif. Dia tidak memperhitungkan perubahan. Tolol.


Maka berkelanalah lagi, Marry. Ke seluruh penjuru dunia.
Temukan dia, yang sama sepertinya, hanya bedanya yang ini bernyawa.


Published with Blogger-droid v2.0.6
Sunday, June 17, 2012

Takdir



Menguping pembicaraan dua orang yg baru saling mengenal di sebuah taman kota, yang (mungkin saja) saling jatuh cinta pada pandangan pertama..

X: "Lagi nunggu siapa?"
Y: "Nunggu mbak, lagi beli souvenir buat nikahan dia."
X: "Woow jangan kabita ya, hahaha."
Y: Manyun. "Iya nih, ah kapan yah ketemu jodoh.."
X: Menatap dalam. "Tungguin yah.."
Y: "Ih. Gakmau ah sama berondong mah. Kamu kan setaun lebih muda."
X: "Gak beda jauh kok. Yuk?"
Y: "Ogah!"
X: Bangkit lalu berjalan menjauh. Kemudian membalikkan muka dan tersenyum, lalu berteriak "Aku 24 kok! Lebih tua dari kamu!"
Y: Merah padam.

P.S.:
Mungkin, memang ada yang namanya kebetulan. Termasuk bertemu jodoh. (Saya hanya bisa ikut berdoa ya Mbak, semoga Masnya serius waktu minta nunggu. Bukan asal bunyi, hihi..)


Published with Blogger-droid v2.0.6
Saturday, June 16, 2012

Wangsit


"Tuhan selalu bersama orang-orang yang berani."
(Roni, Guru kesenian SMA di Malang, mantan tim rescue Mapala UM)

Salah satu teman terdekat saya berkata, mendaki gunung itu untuk rekreasi. Teman dekat lain berkata bukan untuk melarikan diri. Ada pula yang berdalih menghabiskan energi. Lain lagi dengan Kakanda Suhu, mendaki gunung itu sarana membuktikan ketegaran. Untuk membuktikan kekuatan dengan menyusuri alam.

Bagi saya, mendaki gunung itu gabungan dari semuanya. Bagi saya, mendaki gunung itu bagai perjalanan menemui kekasih satu jiwa, yang bisa diajak berbicara dari hati ke hati. Ketika seluruh benda asing yang mengkontaminasi pikiran musnah. Tidak ada yang lain, hanya satu tujuan. Melangkah dan melangkah lagi, karena saya pasti menuju kesana. Saat hati, pikiran, dan jiwa murni ialah diri sendiri tanpa ada siapapun. Ketika di titik itu, saya bisa bercermin dan melihat pantulannya dengan jelas. Membaca siapa dan apa yang ada pada diri saya sesungguhnya.

Singkat cerita, saya pergi dari ibukota dengan beberapa virus yang berkembangbiak di kepala. Yang mengganggu keseimbangan hormon juga emosi dalam beraktifitas rutin. Maka detik itu juga, saya memutuskan pergi. Dengan mengatasnamakan kepercayaan pada dua orang teman yang saya kenal sepintas, saya bertaruh melakukan perjalanan kurang dari 10 hari.. menuju Kerajaan Anjani. Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Banyak hal baru yang saya dapatkan disana, juga sosialita baru. Abang polisi juga petugas kereta api Malabar yang gemar bercanda dan bernyanyi, Kondektur yang senang bercerita, ABK kapal yang selalu tersenyum meski dipekerjakan di bawah sinar matahari.. para pendaki, para penjelajah, orang lokal yang ramah. Yang mengantar ke Senggigi menjamu jagung bakar dan bremnya. Yang membagi ikan hasil tangkapan bersambal khas. Yang mencarikan tumpangan pulang plus menyelipkan uang jajan. Orang Malang, orang Banyuwangi, orang Mataram, orang Sembalun, orang Senaru, orang Sumbawa, dan orang-orang lainnya yang membuktikan bahwa selama kita berada di tanah air sendiri, kita tidak pernah sendirian. Kita banyak temannya.

Wangsit pertama bercerita mengenai kegelian saya sendiri dalam menghadapi suatu masalah. Katakanlah, saya muak bersikap defensif terhadap suatu inti cerita dalam 8 bulan terakhir. Saya muak berdamai, bersikap berjiwabesar, dewasa, tegar, bijak dan ntah apa-apa yang bertitle rongsokan. Itu bullshit. Saya muak, berkata silakan. Muak mendengar pembicaraan mereka di depan saya. Muak mendengar sedikit-sedikit dia menghubunginya. Saat bercengkrama dengan penduduk sekitar, saat menunggu pergerakan yang lambat, saat manja pada kondisi yan salah, saat-saat kamu-harus-bisa-mengalahkan-diri-sendiri-dan-meyakini-kamu-mampu-tanpa-harus-menghubungi-orang-itu-di-depan-saya-oh-please-mengerti-sialan?!? Intinya, saya mendapati wangsit bahwa kelian boleh saja menjadi setan atau muda-mudi yang terpanggang gelombang asamara.. tapi jangan di depan saya. Jangan berani-berani di depan saya. Karena meminta maaf itu dari bawah, sembari merayap, sembari berdarah-darah. No merajuk. No manja-manjaan. No mengeluh. Titik.

Wangsit kedua, mengenai pekerjaan. Mengenai rencana ke depan yang terarah menuju aman dan pasti. Kah memasuki Badan Umum Milik Negara dengan uang pensiun lumayan. Atau rencana studi ke tanah kelahiran Hitler dengan modal beasiswa. Atau angan menjadi Menteri demi memajukan negara. Yessss, itu juga bullshit. Saya benci rutinitas, saya benci dikendalikan, saya benci belajar. Sungguhpun saya benci menjadi pekerja. Seriously. Maka, saya bertekad untuk membatasi semua ini hingga 3-5 tahun ke depan. Setelah saya mampu menginvestasikan jaminan masa depan keluarga saya pada sesuatu yang konkret, yang bisa maju dan berkembang tanpa harus ada saya. Lalu kemudian saya akan pamit kepada Ibu, untuk pergi mengelilingi dunia. Membangun keluarga kecil Wild Thornberry milik sendiri. Meliput, menulis, mengabadikan momen langka. Berkarya dengan hidup nomaden. Hidup berkelana. Hingga menemukan satu tempat untuk menetap dalam kedamaian. Like a fairytale, tapi mungkin bagi yang percaya.

Wangsit ketiga, mengenai dominansi. Tentang visi dan misi bersama.. pendamping hidup. Maka kepada kamu-kamu sekalian yang usil dan dahulu selalu saya jawab hanya dengan titik tiga atau cengiran misterius, saya katakan.. Saya tahu apa yang saya cari. Demi Neptunus, saya tahu persis. No one's perfect, yes? Tapi, akan selalu ada disana. Seseorang yang digariskan oleh Tuhan untuk menjadi jodoh saya yang belum dipertemukan, literally.

Pada intinya, saya berhasil beristirahat! Berteman aliran bintang-bintang dan fullmoon sepanjang perjalanan. Meski 5 hari 4 malam belum cukup untuk menikmati keindahan kerajaan dewi. Tapi, saya berterimakasih, karena Allah telah mengizinkan saya mengunjungi rumahmu.. Anjani. Terimakasih.. :)

"Ayah, nanti Kakak sumbangin satu ginjal buat Ayah.
Tapi Kakak mau ke Semeru sama Rinjani dulu ya yah!" |
"Rinjani itu, di Lombok ya? Bagus gitu Kak?" |
"Katanya bagus, danaunya biru banyak ikannya.." |
"Ah Ayah juga kalau masih punya kesempatan mau kesana. Kamu beruntung Kak. Diberikan banyak kesempatan untuk hal-hal yang gak bisa Ayah alami dulu."



Iya, Rinjani bagus sekali Ayah.
Bukankah Ayah yang menyuruh Kakak untuk terus melangkah menuju puncak?
Meski air minum tak pegang, jaket hanya sehelai, dan angin beku terus menusuk telinga?
Ayah disana.. Bersama bulan yang dahsyat. Menemani agar tak pernah menyerah. Memeluk Mahadewi
.















Dan sumpah pemuda.. :D




♪  And I find it kind of funny,
I find it kind of sad
The dreams in which I'm dying
Are the best I've ever had

I find it hard to tell you
I find it hard to take
When people run in circles
It's a very very
 Mad world, Mad world 

[Adam Lambert: Mad World]

Monday, June 4, 2012

Juni



Sebuah lagu, untuk lelaki nomor satu. :')
 

Blog Template by BloggerCandy.com