Friday, October 26, 2012

Cecoro


Ketika waktu yang dihabiskan bersama orang-orang ini, lebih banyak dari siapapun juga dalam berbulan terakhir..
Ketika medan memang mengisolasikan diri dari dunia luat tanpa ampun sama sekali.
Ketika yang dipandangi hanya biru, biru, dan biru. Hanya mereka yang itu saja. Ketika mereka membentukmu yang sejati, tentang penerimaan, tentang pembaharuan, tentang pendewasaan, tentang dunia.

Percayalah, lautan sungguh tepat bagi orang yang dinamis. Yang membenci stagnansi, yang benci hiruk-pikuk kota. Yang benci, mereka yang manipulatif. Karena lautan sungguh seapa-adanya. Tiada tempat bagi topeng-topengan, lumuran terigu, apalagi barang imitasi.

Absolut, saya tidak akan pernah mau. Terkhusus bertemu Anda. Mereka pun akan kamu sontek kah?

Gaya? Kecil. Penampilan? Apalah. Kesukaan? Monggo. Selera? Jug. Hobi? Apa aja boleh. Asalkan jangan lautan, lautan tempat saya berkelana. Dimana saya terhindar jauh sekali dari lakumu yang membuat alergi.

Bukan sombong, hanya iritasi.
Bukan memaki, hanya menjengit.
Bukan dengki, juga iri, atau benci, apalagi kheki..
Hanya alergi. Hanya alergi.

Alergi. Dengan imitasi.

"Ah Vid, jadi hare-hare maneh mah. Tara sigap nyieun kopi deui.." /
"Gara-gara si Umar Bakri nih. Eh siapa, Aa Gepeng ya? Apa si Tatang? Gyahaha Tatang mah udah ke laut kali yee~"

Gak Oom. Lain ka laut si eta mah.
Jangankan ke laut, maju satu meter aja susah. Wkwk.
 
Monday, October 15, 2012

Belief


Karena, terkadang kita harus keluar dari zona nyaman untuk menjadi besar.
Karena orang besar ialah orang yang mau mencoba mendaki puncak tertinggi juga palung yang terdalam..


Bulan ini bulan paling gabut sedunia. Di kantor ongkang-ongkang kaki, masuk sesiang-siangnya, cabut semaunya.

Ketika waktu luang terbentang sangat luas hingga salah satu teman pun bisa mencetuskan tanya status kepegawaian saya disana: Ente dipecat, Ngil?.. Shit man! Mungkin karena saking seringnya saya terlihat leluasa bersantai di Bandung. Saya sudah kelamaan di darat tanpa ada kerjaan yang jadi hambatan melaut memang, tolong!? ╰( ̄﹏ ̄)╯

Beberapa hari kemarin, keberangkatan saya dibatalkan dengan alasan konyol, kamar penuh. Karena wanita dispesialkan, satu kabin untuk dia seorang. Ini lah kan, minusnya kapal di negara kita, tidak one man one room. Jadinya perhitungan kalau kaum hawa naik.

Dan di tengah nesu-nesu saya untuk mangkir karena sepertinya ke depan akan sering terpentok masalah seperti ini.. tapi bingung entah kemana, tawaran itu pun bermunculan seperti turun dari langit begitu saja. Ajakan mengelilingi dunia, begitu MENGGIURKAN.

Tapi, tapi, dan tapi...

Hingga di Senin sore ini saya menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan di balkon pengasingan, mencoba merangkum tumpukan tapi menjadi sebuah keputusan. Mencoba atau tidak.

"Ah kau, kan belum tentu diterima juga? Kenapa segalau itu buat nyoba aja?"|

"Men, bagi urang galau itu ketika memutuskan buat coba apa nggak, bukan waktu tau hasilnya. Itu mah resiko karena udah nyoba, justru tahap awal ini yang menentukan seberapa niat kita untuk bekerja disana.."

See?

So, why so serious, Vidia~

Friday, October 12, 2012

UsangAsingAsong


Seperti deja vu,

Ingat momen empat tahun silam.. Jauh sebelum orang itu menikah tepat dua hari sebelum Ayah pergi sehingga janji saya untuk datang harus diabaikan; jauh sebelum orang tersebut meminta bertemu, berkali-kali sebelumnya, setelah masa dua tahun perang dingin, yang terserang penyakit akut: grogi; jauh sebelum manusia bodoh ini beralih karena anomali; jauh-jauh, sebelum Ayah & Ibu bertanya mengenai seorang yang berkuliah sama dengan Tante Dewi, di jurusan yang Ayah ingini dan lolos tapi terpentok biaya.

Sore hari. Di gerbang Salman. Mang-mang jual majalah. Bercanda tentang satu orang yang mencari-cari sedari tadi. Perawakan itu, mata itu, dan kata-kata: "Kayanya beda sama yang di foto ya? Yang ini chubby.."

Atau mari merangkak ke satu tahun sebelumnya.. Lebih jauh lagi sebelum jengah melihat mereka yang lebih bebal dari cangkang penyu; sebelum konferensi konyol bersama orang-orang kepala batu; sebelum perjalanan halus tapi menyakitkan; sebelum permusuhan para wanita; sebelum merasa menemukan partner terbaik; jauhhhhh.. sebelum menyaksikan metamorfosa seorang penunduk dan penakut menjadi yang selalu menegakkan kepala dan berhati besi.

Lagi-lagi sore hari. Di bangku-bangku koridor depan perpustakaan besar. Mahasiswa pikuk berlalu-lalang. Seseorang memanggil dengan minim percaya diri. Sorot itu, mata itu, dan kata-kata: "Halo..."

Bagian mana? Ialah ketika menemukan seorang asing yang menunggu di tengah keramaian. Saat menerka, menilai ini-itu, lalu memilih. Saat orang ini menjelma menjadi image, menjadi figure, memiliki peranan, dan memiliki porsi hingga bertahun kemudian. Orang-orang asing di ujung jalan.

Seperti orang asing yang empat bulan lalu minta dibuatkan teh hangat di pagi hari. Atau orang asing yang sebulan lalu di warung mie pertigaan lampu merah yang habis berkendara jauh dan tiba terlalu malam. Atau yang baru saja, sekitar dua pekan lalu, menanti di pinggir jalan membawa ransel besar, dengan kalimat pertama: "Pantesan lama, kok naik bus yang ini?"

Orang-orang asing yang saya persilahkan masuk di ruang tamu,

yang beruntung bisa mendapat kunci rumah.

"Yah, kemaleman. Padahal mau minta anterin.." |
"Hah? Kemana?" |
"Ketemu Ayah.."

Ah.. Siapa bilang orang asing itu penculik, penjambret, penghiptonis, bahkan pemerkosa?

Orang-orang asing ini pernah membuat saya merasa menemukan rumah. Rumah yang juga bisa membuat saya tetap bermimpi. Tempat tiada lagi yang harus disembunyikan termasuk berkata: "Aku kangen~"



♪ So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go

Cause I'm leavin' on a jet plane
Don't know when I'll be back again ♪

[John Denver: Leaving on A Jet Plane]

Thursday, October 11, 2012

Fear


Iya saya takut.
Takut dengan si Caris Hipsip entah apalah namanya itu dan alat ukur bersensor tiga yang asing bagi saya.
Takut bertemu seorang kapal yang makin gila saja akhir2 ini dan prosesi hindar-penghindaran yang nampaknya akan sulit nanti.

Takut menghadapi mcu yang kedua kali dan mendapatkan hasil bahwa rupanya saya sakit parah.

Takut terhadap angka 20x10^6 dan 2x7, terhadap rumput padung, terhadap bianglala, terhadap struk-struk dokter.

Saya takut, saya mati besok atau lusa dan melalaikan semuanya. Menjadi tidak berguna.

Dan... juga,
Saya takut kehilangan cinta kamu. #eaaa




♪ Dan ku akui tanpa kemunafikan
Ku cinta kau
Bahwasannya keakuanku bersumpah
Ku cinta kau ♪

[Iwan Fals: Yang Tersendiri]
Friday, October 5, 2012

Perasaan


Kau tahu arti perasaan "kosong"?
Saat bahagia tidak, sedih pun tidak.
Saat malam hening. Tiada suara jangkrik, maupun makhluk malam lainnya. Hanya ada suara kipas angin yang berderik di sudut kamarmu.

Itu kosong. Hampa.

Atau,
Pernah mendengar cerita si kecil Selly, yang meragu menyebrangi sungai hanya dengan pijakan batu licin di tengah derasnya aliran air?

Itu kosong. Itu hampa.

Karena itu, saya sungguh benci.
Dan sungguh menghindari.
Sesuatu yang rapuh dan malu-malu, yang datang lagi kali ini.

Membawa berjuta kecemasan juga asumsi yang dibuat-buat. Bernama perasaan.



... "Lantas?" Andi, seperti biasa tidak sabaran.
"Lantas apanya?" Pak Tua tertawa kecil, menggoda.
Andi memasang wajah sebal. "Musik dan cinta tadi, Pak Tua."

Pak Tua memperbaiki selimut di kaki.
"Ya, cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti."


(Tere Liye: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah)


Wednesday, October 3, 2012

...


Sore ini saya bermimpi, melihat Aki Imat. Tertawa berderai di tengah tamu yang melayat. Ramai sekali. Aki, lalu siapa yang akan ngahuapan saat Aki autis main game?

Aki, tabah ya. Kehilangan cinta untuk selamanya, entah bagaimana rasanya. Tapi Aki orang hebat. Yang akan selalu tersenyum. :)

Ucritz
Tuesday, October 2, 2012

Kilat


Apa rasanya, memercayakan hidup kita.. pada seorang asing yang kita kenal secara tak sengaja pada suatu liburan impulsif selama dua hari? Apa rasanya, membuka pintu lebar-lebar, bahkan mengijinkannya masuk.. pada seorang asing yang kemudian kau ketahui bobot-bebet-bibitnya, yang ternyata jauh dari mereka yang terdahulu.. yang berkilau akan lulusan universitas terbaik atau besar rupiah yang tertera di jidat mereka?

Apa rasanya, jika selanjutnya, kau bisa berhenti kebas, lalu move on karena orang asing itu? Kau bisa kembali tertawa dalam arti sesungguhnya, bahkan berhenti melirik dengki pada orang yang kau benci, karena dia?

Rasanya, murahan.
Karena percaya pada khayalan.
Seperti menganggap Bluebird itu anak Burok.
Seperti yakin Skybridge akan benar beroperasi di Bandung.
Seperti memainkan Cepot, yang bisa menganga lebar ketika ditarik benang di punggungnya.

Murahan, tapi benar adanya.
Kali ini aku memilih berkelana.
Berharap menemukan rumah.
Dengan dipandu kejora.

"Menjadikan dua hati yang manunggal dalam satu jiwa.."

Ndut, biarkan tetap disini yah! :)

N. D. U. T.
Saya membenturkan kepala di dinding keras-keras.
Berharap isinya tumpah lalu meresap ke dalam tanah.
Murudul. Gugulutukan nepi ka tungtung.
Sunday, September 30, 2012

Jet Plane


Diamkan dan Abaikan mereka..


Pada dasarnya, saya ialah pemalu yang lemah.. Juga penakut yang cengeng. Yang gemetaran hingga didorong-dorong Ayah saat sekedar meminta saus sambal pada pelayan fast-food, atau tercekik saat berbicara di depan umum. Yang memilih menangis daripada pulang sendirian di malam hari, atau mematung saat mati lampu. Saya, pribadi seperti itu. Menyedihkan!

Lalu kenapa saya senang mendaki puncak-puncak tertinggi, mencoba meraih hal-hal yang berbeda, yang tidak semua orang bisa. Bermain lumpur, menentang badai, berjalan berhari-hari beratus kilo tidak mandi? Pantang berlindung di terik matahari, sengaja berhujan-hujanan, bahkan terjun bebas dari ketinggian sekian kaki? Karena, saya ingin lebih dari diri saya sendiri. Karena saya ingin mendobrak limit saya. Saya tak mau melulu menjadi yang dilindungi, melulu menjadi yang merepotkan, melulu jadi yang harus dibantu. Saya ingin menjadi kuat, menjadi hebat. Menjadi jagoan.

Itu alasannya, kenapa saya memberanikan diri di malam itu. Secara sadar dan tidak gila, untuk jalan beramai-ramai, dan tertawa bersama.. mereka. Meski sungguh, jemari saya bergemeletuk dan menatap pun tak sanggup. Meski sungguh, urat-urat muka terasa kaku dan tidak keruan. Saya bisa, dan sanggup menghadapinya. Karena saya jagoan.

"Ah.. Maneh bisanya ngomong doang. Kalau aslinya, malah sibuk maenin hape.."|
"Mampus maneh, mampus! Katanya berani, tapi kok jalannya menghindar?"|
"Lu tengil banget yak? Perasaan tadi gak gini, diem aja kerjaannya.."

Maneh mah, terlalu keras sama diri sendiri, Bociiiiel.
Selebor ah critz, kalau gak kuat ya bilang aja, gak usah sok kuat. Suka sok gak butuh bantuan orang lain sih..


PLAK!

Saya bisa koook, thankyouverymuch.
Dan terbukti karena saya sudah naik tingkat, karena sudah bisa bereaksi normal meski belum bisa berbincang seperti biasa. Meski masih dalam radius 5 meter.

Karena sudah pasti ada yang hilang.
Karena semua ada harga yang harus dibayar.



♪ But not for long girl
It's in the song girl
Cause I'll be gone bye bye bye yeah
Bye bye bye girl ♪

[Red Hot Chili Peppers: The Adventures of Rain Dance Maggie]

 

Blog Template by BloggerCandy.com