Wednesday, September 12, 2012

Kuda


"We're both just people who worry about the breaths we take, not how we breathe."
[Ika Natasha: Antologi Rasa]

Sampai kapan kau akan terus berlindung di balik logo anak bawangmu?
Puas dengan bego / tak yakin / krisis percaya diri agar bisa terus-menerus lari dan bersembunyi?

Ah, anak bawang itu aku. Yang kecewa karena tidak pandai menari.

Aku ialah sesiung anak bawang. Yang hidup malu-malu tapi angkuh seperti kucing. Lahir dari perkawinan silang bibit unggul bawang cerdas dan bawang berani. Diharapkan menjadi bibit unggul lainnya yang mau meng-upgrade diri sendiri dan perlu banyak disuntik multivitamin agar menjadi tangguh.

Aku terlahir prematur. Memberanikan diri melompat pada Laut Cina Selatan di musim taifun ketika baru bisa berenang. Bukankah aku biasa mahir karena keadaan terdesak dan tertekan? Konvensional, tapi sakti. Tapi tidak kali ini. Kemudaan membuatku gentar dengan benda asing yang tinggi teknologi. yang begitu sensitif disentuh tanganku yang amatir. Aku gemetar. Ditaksir berulang kali, ditimbang, diuji, dinilai dengan seksama.

Aku. Tidak biasa menjadi yang terendah. Aku anak bawang yang angkuh, ingat? Anak domba yang ingin dianggap singa, kecil tapi sudah berbahaya.

Dan, disinilah aku. Menenggak kopi dengan kalap. Saat sirine bertubi bagai palu godam di kepala, menjerit:
Kuda takkan pernah mau dikekang. Ia hanya tahu berlarian bebas di padang rumput yang luas, menikmati keindahan alamnya.

Aku ialah sesiung anak bawang. Yang hidup malu-malu tapi angkuh seperti kucing. Menimbun berkarung beras untuk ditukarkan dengan padang rumput luas dan indah. Untuk berlarian bebas.

Sampai kapan?

Sunday, September 9, 2012

Pekat


Aku hanyalah bintang. Yang hanya mampu menerangi dirinya sendiri. Sesekali menjadi penunjuk arah bagi nelayan yang tersesat. Namun hilang timbul, bergantung pada konstelasi langit.

Aku hanya bintang. Yang terang tapi tak menerangi. Papa dan tak berdaya.

Malam resah kali itu. Bagaimana tidak? Bulan merajuk, menghilang digantikan mendung. Petir ribut bergemuruh, mempersaingkan kilatan siapa yang paling kencang. Lalu hujan turun deras. Sempurna melahap tawa yang juga tersedak asin air mata. Perfect.

Karena itu, aku selalu membutuhkan matahari.

Aku hanya bintang. Bukan matahari. Dan selamanya tak bisa menjadi matahri. Aku tak bisa merubah malam menjadi siang. Aku statis. Aku hanya benda langit yang bercahaya untuk diriku sendiri. Bersinar, tapi tak menyinari.

Aku benar butuh matahari, sebagai Dewa Kehidupan Semesta. Sebagai hakim, sebagai penanda hari, sebagai patokan arah kiblat.

Bukan kejora, meski indah. Aku butuh matahari. Butuh matahari. Aku butuh.
Matahari.

Bukan. Bukan matahari yang itu. Yang pernah membumihanguskan suatu kehidupan pada masa lampau. Ini matahari sejati, yang hanya mengenal kata menghidupkan.

P.S.:
Kamu, tidak pernah pantas lagi, kusebut matahari.


♪ Running and hiding
Take and dividing
You've got your secrets
I've only got a sleeping sun ♪

[Coldplay: Sleeping Sun]

Gingsul


Adik bungsu saya memang tidak sempurna. Terlahir dengan kelebihan panca indera, namun kurang dalam intelejensia.

Sulit berkonsentrasi, terlambat berkembang jauh dari anak seusianya. Selalu perlu penanganan khusus, dilimpahi perhatian, serta sikap yang sangat dewasa. Adik bungsu saya, istimewa.

Pernah suatu ketika, di sela rutinitas pijat kayu putih antara aku dan Ayah, beliau menatap sedih. Untuk tidak berharap banyak, untuk selalu dijaga.. sekuat tenaga, bagaimanapun keadaannya..

Dan pada suatu sore dalam acara potong kuku - kutek pink - obrol santai dengan sang adik bungsu, yang terkadang bercerita tentang hal di luar akal sehat (termasuk teman imajinernya yang benci shalat dan mengikuti kemana saja, apa saja, kapan saja). Saya ringan bertanya tentang masa yang ditinggalkan karena memacul di luar rumah. Masa-masa yang sungguh ingin saya tukar dengan apa saja agar dapat kembali. Masa rumah yang lengang, yang pada siang hari hanya berisi dia, Ayah, dan Eyang.

Windi masih suka uleng-uleng?

"Enggak.. Ayah kan batuk, capek katanya.."

Oh.. Titip pesen gak sama Windi waktu itu?

"Iyahhh.."

Sejenak mata bola-nya mengerjap-ngerjap. Saya kembali sibuk mewarnai kuku, berpura tidak tertarik.

"Kata Ayah.. Windi jangan nangis. Windi itu jantung Ayah. Kalau Windi nangis, Ayah juga ikut nangis.."

Saya mematung. Lalu kuusap rambutnya yang bergelombang, yang kini poninya totorombolan akibat aksi potong sendiri, lalu tersenyum ikik.

Ayah bilang gitu? Makanya Windi jarang nangis lagi ya?
Dan dia hanya diam. Matanya kosong menatap ke depan. Tersedot masa lalu.

Ayah, anak bungsumu yang istimewa, rupanya berisi. Rupanya bisa mengingat kata-katamu dengan detil. Dengan sempurna. Dia mendengar, Ayah. Dia memahami. Dia mengerti.

Bukankah, meski dia selalu bertanya mengapa Ayah pergi dan tidak pulang-pulang, dia sungguh tahu Ayah dimana? Dia selalu tak sabar dengan kunjungan kita, bersemangat menabur bunga, dan mencium nisanmu dengan riang. Dia paham. Dia lebih dari itu, percayalah..

Saya sungguh malu. Karena seringkali kata-katamu hanya masuk dan keluar telinga begitu saja.

"Kakak. Ayo main serigala!
Tapi, Ayah gak bisa main itik-itik lagi sama Windi ya?"

Ayah. Sejuta milyar kali pun tak cukup, untuk berkata bahwa kami kangen padamu. Sekali.

Thursday, August 30, 2012

Mattor Sakalangkong


... aku adalah laron yang rela menabrakan diri pada cahaya..
[Jendela untuk Bunga - Lily Yulianti Farid: Ayahmu Bulan, Engkau Matahari]

Naara akhirnya merasa bertemu jodoh. Di sebuah Pulau Biru, dalam suatu urutan peristiwa yang seperti disengaja. Begitu saja.

Ternama Leo. Menikah dua tahun lalu, dijodohkan. Telah memiliki satu anak perempuan berpipi tembem dan bermata bulat. Mencoba cinta karena terbiasa. Naara tidak percaya, sungguhan.

Ternama Leo. Diramalkan sukses dengan modal ijazah STM, memiliki gangguan akut pada lambung, dan beristri dua. Naara juga tidak percaya, apalagi ketika ditanya kesediaan untuk melengkapi kebenaran ramalan yang terakhir. Sungguhan. Naara hanya tertawa.

Karma. Naara percaya karma itu ada. Ada dengan bertemu Leo. Pada suatu malam hampir purnama yang tersaput kelabu. Indah bersandar di haluan wahana lautan.

Jodoh. Dan takdir. Naara sudah bertemu. Untuk berhenti di satu titik dalam perjalanan yang singkat. Cepat sekali. Mengalir begitu saja. Kliat, dan pasti. Dan cocok. Dan berhenti. Tuhan, inikah yang kau tuliskan untukku? Naara bernyanyi. Bernyanyi, karena yang dia percayai bahwa jodoh tidak pernah lari. Meski tidak semua orang ditakdirkan dengan jodoh, tapi, seperti kata seseorang yang dahulu pernah dipuja tapi meninggalkannya tanpa ampun.. mungkin nanti, di alam firdaus. Mereka akan berjumpa.

Maka terpujilah Allah Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Segalanya.
Untuk dipertemukan, dengan segala pertanda dan segala yang cocok.

Naara telah menemukan potongan puzzle yang hilang. Meski entah bagaimana selanjutnya. Kini Naara berhenti mencari, dan hatinya telah mati. Untuk Leo.


Pasuruan, di tengah lautan yang bijaksana

♪ And the thing that gets to me
Is you'll never really see
And the thing that freaks me out
Is I'll always be in doubt
It is a lovely thing that we have
It is a lovely thing that we
It is a lovely thing, the animal
The animal instinct ♪

[The Cranberries: Animal Instinct]

Thursday, August 23, 2012

You're on Duty


I think she's right. God damn it! I am a Summer.


Menonton film itu lagi di sela shift 18.00-06.00 kembali membuat saya deja vu. Akan wajah-wajah yang pernah mengisi, lalu kembali. Meminjam istilah teman brengsek saya yang waktu itu meng-hack account semena-mena, tiba-tiba saya galau tingkat menteri.

Kalau dipikir kayak pernah ya?

Ahaha iya pernah, dan dibalas berkali lipat sama si Tom yang ternyata juga Summer (dalam definisi berbeda, katanya). Berarti, jika kali ini terjadi dengan tingkat yang lebih tinggi, kali lipatnya akan jauh lebih tinggi lagi.

Amit-amit. Lebih baik saya berhenti. Dan kembali bekerja.

Tuesday, July 31, 2012

Amin



Aku pelaut yang mencari daratan yang tak pernah tenggelam.
Yang bisa memaksaku pulang. Dimana aku mampu melabuhkan jangkar hingga berkarat.
Karena aku tak mau berlayar lagi. Aku telah pulang..

Kakak lelaki hitam manis tapi menyebalkan saya itu sedang jatuh cinta. Terkikik sendiri, sesekali mendengar kiriman rekaman suara. Tersenyum lagi.. Lalu saya tertawa. Usil.

"Naon sih critz, maneh liat urang pacaran. Mupeng yaks?" |
"Hih. Bodor. Hahaha." |
"Bodor kunaon? Namanya juga pacaran. Naon bodorna. Bodor tapi hayang nya?" |
"Azzzz, mengalihkan. Jadi, pacarnya ada berapa? :p" |
"Ada 1. Maneh mau jadi ke dua? :D" |
"Bah. Cape hati sigana mah." |
"Hahahahha. Emang mau jadi ke berapa?" |
"PUH." |
"Wekekeke, awa doain..ketemu co yang bisa manjain maneh ya critz." |

Dan saya mendelik. Merah padam.

"Amin gak?"
"Amin?"
"Amin dulu atuh.."
"Amin ya? Ya? Ya?"

Sungguh ya. Dia memang paling pintar membalikkan keadaan. Sosok cerdas yang berani.

"Ah. Urang paling benci dibaca orang lain," akhirnya saya bicara setelah kopi hitam kapal api habis.
Dan dia tersenyum, jahil. "Itu kenapa maneh selalu tidak mendapatkan apa yang maneh inginkan crit.."

Sialan. Lalu dia mengacak-ngacak rambut saya yang tipis. Merenung memandang perairan teluk yang tenang. "Crit, semua cowok yang punya adik cewek pasti mengerti, kalau kalian itu pada dasarnya manja. Urang yakin maneh juga, cuma karena keadaan jadi gakbisa. Tapi suatu saat, pasti maneh ketemu orang yang tepat. Ya? Amin?!!!"

Muka saya tertekuk, dan merah. Saya mengangguk, memainkan tiewrap dalam sunyi. Dia tersenyum jahil, lagi. Senyum yang membuat tonjolan pada bagian pipi bawah. Yang selalu saya olok-olok ketika mengejek muka saya yang katanya seperti terbuat dari pipi semua.

"Nah gitu dong. Tenang aja, pasti ketemu.." Dan dia melengos pergi, membiarkan saya melamun.

Saturday, July 28, 2012

Bocah


Pada suatu hari, kala bangun sangat siang dan tidak berenergi, dalam langkah gontai dan sering menguap.

"Kunaon sih?" *tepuk2 kepala
"Crit, kagak bawa dongle lu? Terus prosesing ntar gimana? Elu nih, lu nih.." *berkali2 toyor pipi
"Lesu banget toh Vid? Ngopi sonoh" *dengan polos nyetanin batal puasa
"Ih, ntong ngegelan kuku?!" *melepas paksa jemari dari zona nyaman

Rasanya, saya mulai mengerti posisi dianggap masih terlalu muda lalu dimudakan. Annoying, tapi at all menyenangkan. Yah, semoga tidak merubah sikap saya menjadi sok childish atau bermanjaria. :p

Dan, saya menikmati setiap senyum kalian semua. Sungguh. :)



Published with Blogger-droid v2.0.6
Friday, July 27, 2012

Random Acces Memory


SV. MGS Geosurvey: Teluk Banten

Pernah menemukan adegan dalam film action ketika si jagoan terbirit menghindari tembok yang maju menghimpit dirinya? Berlari sedikit lamban saja, dia menjadi papan, dan film tamat. Saya merasa berada pada posisi itu, tapi bedanya.. saya bukan jagoan. Saya hanya anak kecil yang baru belajar berlari tapi sudah harus mengejar naga yang melesat cepat. Dan hebatnya, saya benar-benar berusaha untuk berlari. Tumben.


Sejak kecil, sekali lagi, saya dapat dikatakan orang yang beruntung. Hidup saya seimbang. Bermain jalan, nakal jalan, akademik pun jalan. Tanpa perlu mendekam di kamar sehari semalam suntuk dengan buku, meski dengan nilai seadanya, alhamdulillah, saya selalu diberi kemudahan Yang Maha Penyayang. Maka bayangkanlah di titik ini, saya merasa tiada apa-apanya. Bahwa keberuntungan itu misteri. Keajaiban. Kali ini saya harus berusaha.

Berusaha mengakali RAM otak yang sedikit, yang tidak bisa di-upgrade begitu saja di Bandung Electronic Centre dengan mudah. Kali ini, (iya saya tidak pernah seniat itu), saya harus belajar, berlatih, belajar, berlatih, ditoyor, di-bully. Untuk bermimpi. Untuk meraih impian.

Saya, si anak muda yang tak tahu diuntung dengan keberuntungannya. Kali ini dipaksa untuk benar mengusik dunia. Membuat datar Bumi yang bulat. Bahwa kata menyerah itu pantang, benar? ;)


"Gimana, Kak? Capek ya?
Kerja itu memang capek, Kak.. Tapi dinikmati aja.
Karena, banyak hal yang bisa kita raih dengan bekerja."

 

Blog Template by BloggerCandy.com