Friday, July 5, 2013

Semesta


Malam itu aku terisak. Tersedu, meraung, berada dalam kondisi memerahkan mata, hidung, pipi, hingga seluruh wajah. Dua jam, dan selama itu kamu disana, tanpa peduli telinga yang mungkin telah panas juga berdenging, mendengarkan kumpulan nada sumbang. Di tengah gerimis, di sela lautan ramai dan berangin, kamu tak bergeming.

"Ingin menghilang..." |
"Sabar ya, sebentar lagi, gak akan jauh-jauh." |
"Bukan itu." |
"Hmmm. Jangan. Nanti aku sama siapa?"

Lalu kamu kirimkan seorang berbaju biru.
Sedang tersenyum manis, dengan satu mata mengedip menggoda. Genit.

"Ganteng sekali, ..."
Aku tertawa sengau, dan berhenti menangis.
Dangkal.

Friday, June 28, 2013

Calon


Secara random menemukan sebuah halaman milik entah siapa, dan tiba-tiba saya merasa ini romantis. Menguraikan kata-kata semacam itu sebagai ungkapan hati tanpa ingin dibaca dengan orang yang dimaksud, menurut saya ini sungguhan romantis. Jika benaran tanpa dibuat-buat, sungguh terlalu.



"Till the day i start to lose my teeth...
Till the day i start growing grey hair...
Till the day i close my eyes for end..."

Ah K, kamu kenapa gak ada sinyal? :((((((((


Monday, June 24, 2013

Perapian


Jemarimu biru.
Seperti kebas, nampak beku.

Mari, kita merapat menuju perapian.
Dengan lidah api yang merah menyala.
Menjilat bunga-bunga es yang nakal mendinginkanmu.

Sudah kututup jendela hangat yang berlukiskan badai besar.
Tirai ungu besar itu, mampu menyelamatkan kita.
Dari malam-malam yang jahat, semoga.

Ah, jangan khawatir.. sayang.
Sebentar lagi pagi datang.

Lagi, mencari jari-jarimu di sela tidur.
Menepis halusinasi kau ada dalam jarak terdekat.

Sunday, June 23, 2013

Selaput



Bagiku, pulang kini cenderung lebih sederhana,
sesederhana bahagia.

Semalam dia datang, menengokku yang berhari terakhir sedang sakit-sakitan, yang digabung penyakit malarindu menjadi manja luar biasa. Dengan setelan santai yang dia senangi dan tanpa membawa perlengkapan apa-apa. Dia hadir, lebih memesona dari gambar-gambar yang rutin dia kirimkan sepanjang hari. Lebih wangi dari aroma yang teringat. Dengan kumis dan jambang yang sengaja dicukur sebelum bertemu dengan alasan karena aku suka, he looks so adorable.

Aku memang tak banyak membicarakan dia kini, meski dulu iya. Mungkin karena aku akan malas menanggapi daun-daun yang berbisik menggurui. Atau sekedar rasa ingin tahu untuk memuaskan mereka. Atau mungkin, aku hanya tidak ingin membagi tentang dia pada siapa-siapa. Aku hanya ingin dunia cukup bungkam tentang kehidupanku yang semakin terasing dengan dunia luar.

Orang bilang, ingatan itu menipu. Sehingga ketika ada orang asing yang bertanya, aku malas mengingat-ngingat siapa dia, pribadi seperti apa, informasi mana yang perlu aku pilah dan cukup mereka ketahui saja atau boleh mereka sebarkan pada yang lain melebihi kecepatan suara. Memang ada gunanya, aku mendeklarasikan tentangku sesuai perkembangan terbaru? Ah, paling kalian hanya berkata "Bentar lagi juga ganti ya?" atau "Wah mana lagi yang jadi korban?" dan pertanyaan basa-basi lainnya untuk menambah justifikasi seenak pikiran kalian. Jadi, saya merasa tidak memiliki urgensi untuk bercerita pada siapapun, terkecuali bagi mereka yang benar peduli. Toh, dewasa ini, sulit membedakan mana yang benar peduli atau hanya ingin tahu. Kepercayaan itu semu rupanya, memang rukun mengenai itu hanya boleh ada lima, dan tidak diperkenankan lebih.

Dan pagi ini keberisikan itu datang lagi. Meski tanpa makian, tanpa ancaman, tanpa kata-kata yang meresahkan hati. Wanita ini... ah aku bingung bagaimana menjelaskannya. Karena tidak terdefinisi. Wanita ini tidak terdefinisi. Lah, apa yang bisa ku paparkan, dari seorang yang sekali waktu manis, bertutur kata baik, mendoakan yang indah-indah, tapi di lain waktu bisa menyebut kau apa saja, kau dalam dunianya menjadi peran yang paling jahat sedunia, lalu berkata akan membunuh Ibuku bila tetap bersama dia? Wanita ini tak terdefinisi, itu sudah.

Lalu, Bumi bagiku kini rumit. Penuh warna abstrak. Penuh ornamen tak berbentuk yang dibayangi selaput lengket yang kusut. Aku tak bisa kemana-mana, Aku seperti, bergerilya memerangi sesuatu yang tak kunjung juga terlihat solusinya. Aku bahkan mulai merasa sedikit gila. Untuk maju, terduduk, minum, berlari, jatuh, minum, terduduk, menangis, bangun, merangkak, berguling, terbaring, minum, berdiri, lalu berputar hingga pusing. Kemudian kelaparan.

Mungkin, kenyamanan dahsyat itu, yang membuatku lemah.

Friday, June 21, 2013

Ganjen


Salah satu korban ke-gaje-an saya akibat 51 hari menganggur di darat~
Oh Tuhaaaan! :))

*Kakong Ganjen*

Friday, June 7, 2013

Patience


Beberapa lama ini memang saya sedang mengasingkan diri. Sedang sibuk mengurusi masalah sendiri, menata dan membangun hal-hal pribadi, dan secara sengaja tidak bersosialisasi. Bahkan untuk sekedar bertanya kabar dan mengajak bercengkrama pun enggan.

Ada yang berkata karena saya sudah merasa sempurna, sudah memiliki tempat pulang. Karena keberadaan kakak lelaki manis kehitaman yang penuh kontroversial sehingga memberikan sensasi kejutan listrik, wahana fantasi, dari mulai yang bahagia-bahagia nya hingga seram-seramnya. Saya entah memiliki lawan yang berwujud apa, yang pasti ialah spesies sakit jiwa yang bahkan berani membawa-bawa nyawa manusia.

Berkali saya tergugu, merenung. Mengingat Ibu, Ibu, Ibu. Untuk menegang dan waspada melihat aksi-aksi sekecil apapun. Tolong, jika memang jalannya, biarkanlah semesta yang mengambil alih. Agar tidak ada yang bisa mencampuri tangan Tuhan.

Saya, hanya sedang mencoba berdamai dengan dunia.
Please, God. Just let it be.




♪ Just hold me close
Inside your arms tonight
Don't be too hard on my emotions

'Cause I need time
My heart is numb, has no feeling
So while I'm still healing
Just try and have a little patience  ♪

[Take That: Patience]

Monday, May 20, 2013

Melodrama


Sebuah momen unik terjadi pada senin petang di sebuah warung kopi, yang biasanya banyak orang bercengkrama, berbicara bisnis, atau bahkan tempat bertemu bapak berumur dengan anak semalam nya.

Sebuah bisik sengit terjadi di depan saya, yang diakhiri dengan adegan menggebrak meja, meretakkan tatakan keramik, lalu gelasnya dilempar penuh emosi hingga lantai. Saya terpana sesaat, lalu menguasai diri hingga tersenyum konyol. Adegan sinetron apalagi ini?

Nak, berhentilah mendekati masalah. Apalagi terlibat di dalamnya. *terbahak hingga menangis

Tuesday, May 7, 2013

Another Paradise: Kep. Raja Ampat


Siang itu, saya dan empat orang Abang-abang geje yang hampir semuanya bujang *****, memutuskan mengambil kesempatan curi-curi dan sedikit tipu-tipu untuk bertualang ke salah satu destinasi impian yang.. katakanlah, bahkan menyangka harapan saya akan terkabul pun sedikit sekali. Hihi.

Pasalnya, kebetulan sekali, proyek kali ini berlokasi di Salawati, Papua Barat. Yang hanya berjarak sejengkal saja dari Blok Raja Ampat (Fyi, Pulau Salawati dibagi menjadi dua, yang mengandung minyak ditarik menjadi bagian Kota Sorong, sementara sisanya dimasukkan dalam gugusan Kabupaten Raja Ampat). Yang hanya berjarak dua jam perjalanan Sorong-Waisai menggunakan kapal penumpang seharga Rp 120.000,-

Pertama kali menginjakkan kaki disana, di Waisai (Ibu Kabupaten Kep. Raja Ampat), saya sungguhan speechless. Kondisi lokal disana sungguh jauh dari kemegahan dan kemewahan yang ditayangkan di televisi maupun liputan travelling. Resort, Cottage, maupun pelayanan boat mewah hanyalah segelintir yang diletakkan di beberapa penjuru yang bisa dinikmati dalam bentuk paket bagi turis yang berdompet tebal. Pfffft. Selamat datang di Bumi Cendrawasih.

Dari segi fasilitas yang bisa dirasakan umum masih jauh dari terkoordinir, masih jauh dari pengelolaan ideal bagi kekayaan alam secantik itu. Sangat disayangkan. Pemilik salah satu rumah hotel yang kami inapi (yang Ibu-ibu penjaganya mata duitan, nasi telor kecap sama harganya seperti ayam bakar porsi jumbo + nasi mentung + tahu + sambal mantap + es jeruk --"), mengaku kewalahan mengejar berita mengenai kepulauan mereka yang dipublikasikan ke publik. "Terlalu tinggi, di ulangtahun yang ke-10 ini, kami merasa jatuh-bangun mengejar image yang digemborkan televisi", ungkapnya.

Kepulauan Raja Ampat, yang dari ratusan pulau hanya beberapa pulau yang berpenghuni, yang jarak antara satu dengan yang lainnya hanya bisa dijangkau dengan boat bermuatan solar yang berharga sangat mahal (kalau tidak salah 1 drum solar isi 200 liter bisa mencapai angka 3juta~). See, itulah mengapa wisata disana sangat menguras lembaran rupiah. :((

Dan dengan pengetahuan lokasi-lokasi tujuan yang minim, dan budget yang seadanya, akhirnya paket yang kami ambil hanyalah paket 7 spot snorkeling satu hari penuh (3,5juta/boat) di hari pertama dan paket Wayag (Ikon Raja Ampat) di hari kedua (5,4juta, seri paling murah karena pakai perahu abal-abal dari dinas pariwisata).

Bagi saya pribadi, perjalanan kali ini seperti menemukan keindahan yang tak terduga bisa ditemukan di kawasan pesisir dan perairan. Distraksi rupanya tidak hanya bisa ditemukan di puncak-puncak gunung, tapi juga di lembah-lembah lautan. Kawan, dunia bawah laut sana sungguh begitu mendebarkan hati.

Meski setelahnya saya harus mengirit menghemat sebulan penuh, dan sepulang darisana mendapat kabar mengejutkan bahwa selama saya berlibur kakak lelaki kehitaman manis nyebelin saya rupanya sedang sakit parah, tapi.. ribuan imaji yang terekam jauh menembus otak, ribuan keindahan memesona yang meresap jauh ke dalam hati, sungguh menjadi suatu harta yang bisa saya rasakan hingga detik ini. Terimakasih, atas kesempatan yang Kau berikan, mengecap besarnya semesta-Mu. :)


Waiwo
Pasir Timbul Bianci

Mangkur Kodong

Sail to Wayag


Wayag

 

  
Pasukan Sakit Jiwa

BROCHURES:





 PS:
Siapa yang takkan iri? Hihi~
*edisi sombong & congkak :))

Dokumentasi:
https://www.facebook.com/vidiachandradewi/media_set?set=a.10200908652506005.1073741828.1456038140&type=3

Situs:
http://www.gorajaampat.com/
http://www.xray-mag.com/pdfs/xray06/X-Ray6_Adobe6.pdf
 

Blog Template by BloggerCandy.com