Sunday, September 22, 2013

Memori


Malam itu dimeriahkan oleh adikku yang berteriak ribut saat tim sepakbola yang entah sejak kapan menjadi kesayangannya, dibobol bertubi-tubi oleh lawan. Si Setan Merah, sebut saja. "Ah kamu, sejak kapan suka mereka? Seperti si itu saja," aku berceletuk ringan. Si adik hanya cekikikan meledek. "Masih ingat saja!"

Yah, berjuta memori yang terlempar dari masa lalu, memang terkadang melekat begitu saja dan tak mau pergi. Bagaimana tidak, bukankah orang itu yang dahulu mau menemaniku dalam ritual rutin Senin-Kamis. Melewati lorong sepi yang bercampur bebauan yang memuakkan. Mau diakui atau tidak, dia pernah sangat berjasa bagi keluarga kami.

Lalu Ibu menimpali,
"Eh iya dia sudah kerja belum?" !
"Kata rerumputan sih sudah, di pulau seberang." |
"Ohya? Ibu prospek asuransi ah!" |
"Coba aja hubungi, barangkali masih ingat sama Ibu. Hihi.." |
"Iya ya. Siapatau mau masuk kayak si Anu. Ah, tapi Ibu sakit hati sama si Anu teh. Belegug."
 
Memori lagi.
Ialah suatu momen ketika pertama kalinya si Anu mengantarku pada salah satu ritual di kala itu, dan menawarkan untuk mengantar kami ke rumah jika sudah selesai. Tapi yang dilakukannya hanyalah duduk sebentar, salam sama Ibu, lalu gelisah untuk kemudian pamit dengan alasan penting ada acara bersama teman. Iya, dia lupa akan ucapan yang menurutku penting, terlebih tidak menengok Ayah sama sekali. "Aku takut.." itu dalihnya dahulu. Perkataan yang memecahkan suatu sentimentil yang mulai terbangun pelan-pelan. Hancur.

"Si Ini sama si Ieu juga kemana yah, ah apalagi si Eta.. punya pacar baru langsung menghilang ya?" Ibu meracau. Memanggil-manggil memori.

Hmm. Mungkin memang lelaki begitu. Tipikal yang ketika memiliki maksud mendekat dan menawarkan bantuan. Tapi ketika sudah merasa tidak ada harapan, menghilang begitu saja. Membikin si Ibu kangen, wkwk.

"Sudah, nanti aku bawa satu yang bisa menggantikan mereka semua. Sebuah paket lengkap," ujarku terbahak.

Tuesday, September 10, 2013

yousee


Nama tante-tante nyentrik itu Yusi. You-see. Lafal 'you' diucapkan dengan memonyongkan bibir panjang, sementara 'see' diucapkan dengan nada mendesis sembari mengerling kedip tak wajar.

Kata orang, tante berumur 40tahunan ini bersuamikan pelaut yang jarang pulang. Sehingga untuk mengisi kesepiannya yang menyiksa jiwa raga, mengambil kerja sambilan sebagai sekretaris berbalut busana warna mentereng dengan pekerjaan utama mencari tahu kehidupan pribadi oranglain lalu menyebarkannya pada tetangga yang gemar bergosip. You-see, juga hobi menggoda lelaki ganteng menarik, tante yang berbahaya.

Individu seperti ini mungkin telah banyak beredar di pasaran. Telah menjelma menjadi seseorang yang mungkin pada saat ini berada di samping kau, yang setiap hari menyapa dengan muka ceria, atau membikin kue lalu membagikannya sebagai teman yang ramah.

Jenis spesies yang melata lalu berkembangbiak di comberan. Cakcak bodas, mun ceuk si Udin mah.

Sunday, September 1, 2013

Malarindu

 
Mungkin sakit jiwaku kambuh lagi. Ya sepertinya begitu.
Pagi buta ini aku sedang berada pinggir lautan Jawa yg anginnya mulai meninggi, sembari mengamati para pria yang sedang seru membetulkan stopper yang hampir kandas akibat diterjang ganasnya ombak Laut China Selatan lalu. Disertai perasaan was2 akibat resiko jatuh ke laut, sedikit2 menatap tombol man-over-board, bersiaga jika perlu ditekan. Haha.

Di tengah kesibukan itu, masih sempat aku mengerling pada sabit jingga yang menggantung rendah. Dan sempat-sempat mengibaratkannya dengan senyumanmu. Indah, sayang. Gila.

Ah, aku rindu. Melebihi jutaan bintang yang berserak, melebihi 400 x 5 koma sekian beam yang berlomba menghantam seabed per detik. Rinduku, lebih canggih daripada EM 710.. Literally.

Thursday, August 1, 2013

Ank Yêu Em



Nama kota kecil itu Da Nang. Semacam Newyork-nya Vietnam yang dibelah sungai panjang dan dihubungkan jembatan yang sungguh meriah di malam hari. Lampu berwarna-warni berganti-ganti, orang menari, meminum bir di sudut-sudut tepian sungai. Sayang english masih belum gaul di kota ini, seringnya kami Indonesian mesti menggunakan bahasa isyarat ataupun google translate untuk berkomunikasi.
Dua hari saja saya melancong di kota itu, satu hari sebelum dan satu hari sesudah survey. Sisanya, mengarungi Lautan China Selatan yang seringkali dihantam badai Monsoon maupun Taifun. Saking ganasnya hingga saya tidak betah berada dalam ruangan. Menatap monitor sekian menit, mencari udara segar dua kali lipatnya. Mungkin, ini yang dinamakan mabuk laut. Lemah, haha.
Proyek kali ini seru, terlebih karena ini pengalaman saya ke luar negeri. Lebih berdesir daripada biasanya, meski gelombang selalu mengamuk tak henti mengacaukan data saya. Kali ini saya bekerja dengan seorang Malasyian, pasalnya Kakak pertama yang seharusnya menemani saya masih ditawan di Lautan Jawa untuk membantu Kakak kedua menggoyangkan beam yang sangat bebal. Cemas berlebihan, tentu saja. Meski will saya untuk berpikir dan belajar meningkat, tapi tetap saja bekerja dengan orang asing itu sulit. Penyesuaian karakter, pembagian kerja, bahkan troubleshooting masalah pun menjadi lebih rumit. Apalagi alat navigasi kesayangan mendadak ngadat tak beroperasi, menghasilkan panik sekaligus hidung kembang kempis karena akhirnya bisa membuat sistem baru.

Dan, orang Vietnam itu. Seorang klien yang bertugas sebagai translator dengan chase boat kapal perang Vietnam yang berbahasa internasional disertai logat sengau yang kental. Gemar merayu, dari mulai menggoda tak penting setiap bertemu, hingga mencoret tanpa izin pada sebuah buku. Begitu membuat gerah.

Chief bilang, untuk tidak mengeluarkan aura merah saya. Membuat seorang yang tidak mandi dua hari pun terlihat menarik katanya. Hei, jika yang mengeluarkan auranya ialah sesosok jin keris dari masa lalu, atau jin penunggu gunung yang pernah saya daki.. saya bisa apa? Pfffft.

Ah, jadi meracau.
Mungkin karena Seapath.
Mungkin karena Maranatha.
Mungkin karena Bianglala.

Saya ingin menari bersama gondola, sekalian mengecek cukup tangguh dihantam arus lautan yang kencang atau tidak. Hasil dari angin dengan kecepatan 50 knot dan swell 2 meter. Boleh?
 
Sunday, July 21, 2013

Saing Sehat


Menyimak dan menggabungkan pembicaraan dua orang yang masing-masing berasal dari perusahaan berkembang yang sedang bersaing mendapatkan tender.

*Perusahaan A* | "Oh, damn. Setelah dua bulan kosong dan tahun kemarin minus, kita cuma dapet 2 project yang sedang berjalan dan setelah itu kemungkinan nganggur lagi. Kalah terus kita sama perusahaan B, mereka banting setengah harga. Mau rugi demi dapet nama di awal-awal sepak terjangnya. Resign wae kitu nya? Ah kemana ini idealisme ingin memajukan perusahaan asli negara sendiri? Damn you M*sia, dan damn you juga orang kita yang mau diperah disana!"

*Perusahaan B* | "Bro, pindah sini aja yuk bro. Disini basic anak barunya aja sama dengan gaji full field anak fresh graduate kau. Lagi terus-terusan pula kan project-nya. Menang terus kami bro. Disini butuh banget orang berpengalaman, yang kerja disini masih bau kencur dan pada gak bisa pake Q*sy semua. Hahaha."

Yang bersaing sehat, yang bersaing sehat.
Siapa yang salah? --"

Saturday, July 20, 2013

Kawan


Help can come from anywhere, even from a random question:


"Hai!
Saya lagi butuh pinjeman 25 juta rupiah,
yang rela dikembaliin dalam jangka waktu 6 bulan.
Ada yang punya?"

Si Safety First | "Ah, kamu sakit. Sakit jiwa."

Orang hebat *membuka ladang usaha & bukan menghabiskannya* | "Wew buat apa duit sebanyak itu? Gak ada gw laa.. Penghasilan kami sebulan sama dengan gajimu sebulan, sedih. :("

Pegawai Pemda Jabar | "Gyaa di tabungan adanya sejuta, mau?"

Dokter Muda | "Ga ada, gaji aku cuma 1.2 itu juga dibayarnya 3 bulan sekali sama Dinkes. Maaaaaaap. :(("

Yang ingin nikah dini | "Baru back to the jungle nih, gw ga di lapangan pun ga dilamar2 ternyata. Kismin~"

Orang Kaya Baru | "Gila, emang gaji urang segede apa. Salah pinjem maneh!"

Tukang Sumur Perancis 1 | "Aduh aing karek dp imah 150 juta, ngan sisa 5 euy. Bae nya? Rekening maneh sabaraha, gancang yeuh urang kirim."

Tukang Sumur Perancis 2 | "Bisa2. Slow, gak usah dipikirin. Bisa2. Mau 6 bulan apa setahun aja balikinnya?"


〜( ̄▽ ̄〜)\(@ ̄∇ ̄@)/ヾ(*´∇`)ノ (〜 ̄▽ ̄)〜

Tuesday, July 16, 2013

Lingkaran Kecil Kecil Besar


Singkat cerita, saya baru menyadari bahwa kabar tentang seseorang bisa menyebar begitu cepat melebihi cepat rambat gelombang akustik di lautan. Haha. Sebuah perbincangan santai dengan beberapa orang teman juga senior di kampus dulu membuat saya sedikit panik lalu berpikiran melambung jauh, yang kemudian hanya ditutup dengan kuluman senyum lalu menghembuskan nafas panjang seraya membuang khayalan-khayalan buruk.

Ah, selamat 6 untuk 60~ (Amin!)
Dan kini, terkadang saya sering terbahak sendiri ketika berdoa. Berdoa menggunakan kata-kata yang dahulu selalu saya cerna sebagai suatu kekonyolan. Hihi, semoga Dia mendengarnya. :')


Tuhan, jika ia memang jodohku.. maka mudahkanlah.
Tapi jika bukan, maka buatlah kami berjodoh..Tuhan..

Saya sakit. Sakit jiwa.
Hahaha. :))


Monday, July 15, 2013

Howdy, homy?


Di zaman kekinian ini, mencari rumah yang cukup dekat dari pusat kota tetapi sesuai dengan saku itu sangat.. SUSAH. Bandung rupanya telah begitu padat dan menyisakan lahan bermukim yang minim dan seadanya. Sebut saja, sebuah rumah bertipe 36 yang berlokasi sekitar 1 km dari perbatasan kabupaten Bandung Barat, bisa melambung hingga angka 300-juta(an) dengan cicilan selama 15 tahun. Ampun kk, apalagi fasilitas di sekitarnya masih jauh dari layak. Minimarket, mesin tarik tunai, dan util-util sebagainya masih sulit dijumpai dari tempat hunian.

Banyak yang bertanya kepada saya, kenapa?
Yang hanya saya jawab pongah bahwa tersebut keinginan mencari suasana baru, ingin menjauhkan kenangan yang menari, dan lain-lainnya. Meski dalam hati, saya tersenyum sinis, bahwa ini lah yang saya mampu berikan. Sebuah mungil di pinggiran tebing Sariwangi. Masih hanya bisa dijangkau dengan ojek, halaman depan masih asri dihiasi nuansa jangkrik dan kunang-kunang. Juga masih seadanya tanpa dihiasi pernak-pernik yang harganya juga melejit. Atuhlah, jadi pelaut juga penghasilannya masih pasang-surut. Hauhauhau~ *garuk tembok

Anyway, saya yakin dua-tiga tahun ke depan lokasi ini akan ramai. Terbayang nyata di imajinasi, seiring dengan pertumbuhan rumah-rumah lainnya yang kini masih berupa fondasi. Akan memadat dengan fasilitasnya yang lengkap. Amin.

Yah, semoga. Target-target ini akan tercapai sebelum saya menginjak usia perak.. yang kata orang pamali jika belum berkeluarga. Hish.

Menikah.
Masih tabu.
Masih malu-malu bahkan jika hanya dibisikkan di telepon.



♪ Dodoli-dodolipret.. sepatu baru
Widya kaya' kampret, kentutnya bau..

Makan ayam Mbok Berek.. dan daging lembu
Widya hidungnya pesek, pipinya kembu~ 

[Lies K: Dodolipret]

 

Blog Template by BloggerCandy.com