Thursday, August 1, 2013

Ank Yêu Em



Nama kota kecil itu Da Nang. Semacam Newyork-nya Vietnam yang dibelah sungai panjang dan dihubungkan jembatan yang sungguh meriah di malam hari. Lampu berwarna-warni berganti-ganti, orang menari, meminum bir di sudut-sudut tepian sungai. Sayang english masih belum gaul di kota ini, seringnya kami Indonesian mesti menggunakan bahasa isyarat ataupun google translate untuk berkomunikasi.
Dua hari saja saya melancong di kota itu, satu hari sebelum dan satu hari sesudah survey. Sisanya, mengarungi Lautan China Selatan yang seringkali dihantam badai Monsoon maupun Taifun. Saking ganasnya hingga saya tidak betah berada dalam ruangan. Menatap monitor sekian menit, mencari udara segar dua kali lipatnya. Mungkin, ini yang dinamakan mabuk laut. Lemah, haha.
Proyek kali ini seru, terlebih karena ini pengalaman saya ke luar negeri. Lebih berdesir daripada biasanya, meski gelombang selalu mengamuk tak henti mengacaukan data saya. Kali ini saya bekerja dengan seorang Malasyian, pasalnya Kakak pertama yang seharusnya menemani saya masih ditawan di Lautan Jawa untuk membantu Kakak kedua menggoyangkan beam yang sangat bebal. Cemas berlebihan, tentu saja. Meski will saya untuk berpikir dan belajar meningkat, tapi tetap saja bekerja dengan orang asing itu sulit. Penyesuaian karakter, pembagian kerja, bahkan troubleshooting masalah pun menjadi lebih rumit. Apalagi alat navigasi kesayangan mendadak ngadat tak beroperasi, menghasilkan panik sekaligus hidung kembang kempis karena akhirnya bisa membuat sistem baru.

Dan, orang Vietnam itu. Seorang klien yang bertugas sebagai translator dengan chase boat kapal perang Vietnam yang berbahasa internasional disertai logat sengau yang kental. Gemar merayu, dari mulai menggoda tak penting setiap bertemu, hingga mencoret tanpa izin pada sebuah buku. Begitu membuat gerah.

Chief bilang, untuk tidak mengeluarkan aura merah saya. Membuat seorang yang tidak mandi dua hari pun terlihat menarik katanya. Hei, jika yang mengeluarkan auranya ialah sesosok jin keris dari masa lalu, atau jin penunggu gunung yang pernah saya daki.. saya bisa apa? Pfffft.

Ah, jadi meracau.
Mungkin karena Seapath.
Mungkin karena Maranatha.
Mungkin karena Bianglala.

Saya ingin menari bersama gondola, sekalian mengecek cukup tangguh dihantam arus lautan yang kencang atau tidak. Hasil dari angin dengan kecepatan 50 knot dan swell 2 meter. Boleh?
 
Sunday, July 21, 2013

Saing Sehat


Menyimak dan menggabungkan pembicaraan dua orang yang masing-masing berasal dari perusahaan berkembang yang sedang bersaing mendapatkan tender.

*Perusahaan A* | "Oh, damn. Setelah dua bulan kosong dan tahun kemarin minus, kita cuma dapet 2 project yang sedang berjalan dan setelah itu kemungkinan nganggur lagi. Kalah terus kita sama perusahaan B, mereka banting setengah harga. Mau rugi demi dapet nama di awal-awal sepak terjangnya. Resign wae kitu nya? Ah kemana ini idealisme ingin memajukan perusahaan asli negara sendiri? Damn you M*sia, dan damn you juga orang kita yang mau diperah disana!"

*Perusahaan B* | "Bro, pindah sini aja yuk bro. Disini basic anak barunya aja sama dengan gaji full field anak fresh graduate kau. Lagi terus-terusan pula kan project-nya. Menang terus kami bro. Disini butuh banget orang berpengalaman, yang kerja disini masih bau kencur dan pada gak bisa pake Q*sy semua. Hahaha."

Yang bersaing sehat, yang bersaing sehat.
Siapa yang salah? --"

Saturday, July 20, 2013

Kawan


Help can come from anywhere, even from a random question:


"Hai!
Saya lagi butuh pinjeman 25 juta rupiah,
yang rela dikembaliin dalam jangka waktu 6 bulan.
Ada yang punya?"

Si Safety First | "Ah, kamu sakit. Sakit jiwa."

Orang hebat *membuka ladang usaha & bukan menghabiskannya* | "Wew buat apa duit sebanyak itu? Gak ada gw laa.. Penghasilan kami sebulan sama dengan gajimu sebulan, sedih. :("

Pegawai Pemda Jabar | "Gyaa di tabungan adanya sejuta, mau?"

Dokter Muda | "Ga ada, gaji aku cuma 1.2 itu juga dibayarnya 3 bulan sekali sama Dinkes. Maaaaaaap. :(("

Yang ingin nikah dini | "Baru back to the jungle nih, gw ga di lapangan pun ga dilamar2 ternyata. Kismin~"

Orang Kaya Baru | "Gila, emang gaji urang segede apa. Salah pinjem maneh!"

Tukang Sumur Perancis 1 | "Aduh aing karek dp imah 150 juta, ngan sisa 5 euy. Bae nya? Rekening maneh sabaraha, gancang yeuh urang kirim."

Tukang Sumur Perancis 2 | "Bisa2. Slow, gak usah dipikirin. Bisa2. Mau 6 bulan apa setahun aja balikinnya?"


〜( ̄▽ ̄〜)\(@ ̄∇ ̄@)/ヾ(*´∇`)ノ (〜 ̄▽ ̄)〜

Tuesday, July 16, 2013

Lingkaran Kecil Kecil Besar


Singkat cerita, saya baru menyadari bahwa kabar tentang seseorang bisa menyebar begitu cepat melebihi cepat rambat gelombang akustik di lautan. Haha. Sebuah perbincangan santai dengan beberapa orang teman juga senior di kampus dulu membuat saya sedikit panik lalu berpikiran melambung jauh, yang kemudian hanya ditutup dengan kuluman senyum lalu menghembuskan nafas panjang seraya membuang khayalan-khayalan buruk.

Ah, selamat 6 untuk 60~ (Amin!)
Dan kini, terkadang saya sering terbahak sendiri ketika berdoa. Berdoa menggunakan kata-kata yang dahulu selalu saya cerna sebagai suatu kekonyolan. Hihi, semoga Dia mendengarnya. :')


Tuhan, jika ia memang jodohku.. maka mudahkanlah.
Tapi jika bukan, maka buatlah kami berjodoh..Tuhan..

Saya sakit. Sakit jiwa.
Hahaha. :))


Monday, July 15, 2013

Howdy, homy?


Di zaman kekinian ini, mencari rumah yang cukup dekat dari pusat kota tetapi sesuai dengan saku itu sangat.. SUSAH. Bandung rupanya telah begitu padat dan menyisakan lahan bermukim yang minim dan seadanya. Sebut saja, sebuah rumah bertipe 36 yang berlokasi sekitar 1 km dari perbatasan kabupaten Bandung Barat, bisa melambung hingga angka 300-juta(an) dengan cicilan selama 15 tahun. Ampun kk, apalagi fasilitas di sekitarnya masih jauh dari layak. Minimarket, mesin tarik tunai, dan util-util sebagainya masih sulit dijumpai dari tempat hunian.

Banyak yang bertanya kepada saya, kenapa?
Yang hanya saya jawab pongah bahwa tersebut keinginan mencari suasana baru, ingin menjauhkan kenangan yang menari, dan lain-lainnya. Meski dalam hati, saya tersenyum sinis, bahwa ini lah yang saya mampu berikan. Sebuah mungil di pinggiran tebing Sariwangi. Masih hanya bisa dijangkau dengan ojek, halaman depan masih asri dihiasi nuansa jangkrik dan kunang-kunang. Juga masih seadanya tanpa dihiasi pernak-pernik yang harganya juga melejit. Atuhlah, jadi pelaut juga penghasilannya masih pasang-surut. Hauhauhau~ *garuk tembok

Anyway, saya yakin dua-tiga tahun ke depan lokasi ini akan ramai. Terbayang nyata di imajinasi, seiring dengan pertumbuhan rumah-rumah lainnya yang kini masih berupa fondasi. Akan memadat dengan fasilitasnya yang lengkap. Amin.

Yah, semoga. Target-target ini akan tercapai sebelum saya menginjak usia perak.. yang kata orang pamali jika belum berkeluarga. Hish.

Menikah.
Masih tabu.
Masih malu-malu bahkan jika hanya dibisikkan di telepon.



♪ Dodoli-dodolipret.. sepatu baru
Widya kaya' kampret, kentutnya bau..

Makan ayam Mbok Berek.. dan daging lembu
Widya hidungnya pesek, pipinya kembu~ 

[Lies K: Dodolipret]

Friday, July 5, 2013

Semesta


Malam itu aku terisak. Tersedu, meraung, berada dalam kondisi memerahkan mata, hidung, pipi, hingga seluruh wajah. Dua jam, dan selama itu kamu disana, tanpa peduli telinga yang mungkin telah panas juga berdenging, mendengarkan kumpulan nada sumbang. Di tengah gerimis, di sela lautan ramai dan berangin, kamu tak bergeming.

"Ingin menghilang..." |
"Sabar ya, sebentar lagi, gak akan jauh-jauh." |
"Bukan itu." |
"Hmmm. Jangan. Nanti aku sama siapa?"

Lalu kamu kirimkan seorang berbaju biru.
Sedang tersenyum manis, dengan satu mata mengedip menggoda. Genit.

"Ganteng sekali, ..."
Aku tertawa sengau, dan berhenti menangis.
Dangkal.

Friday, June 28, 2013

Calon


Secara random menemukan sebuah halaman milik entah siapa, dan tiba-tiba saya merasa ini romantis. Menguraikan kata-kata semacam itu sebagai ungkapan hati tanpa ingin dibaca dengan orang yang dimaksud, menurut saya ini sungguhan romantis. Jika benaran tanpa dibuat-buat, sungguh terlalu.



"Till the day i start to lose my teeth...
Till the day i start growing grey hair...
Till the day i close my eyes for end..."

Ah K, kamu kenapa gak ada sinyal? :((((((((


Monday, June 24, 2013

Perapian


Jemarimu biru.
Seperti kebas, nampak beku.

Mari, kita merapat menuju perapian.
Dengan lidah api yang merah menyala.
Menjilat bunga-bunga es yang nakal mendinginkanmu.

Sudah kututup jendela hangat yang berlukiskan badai besar.
Tirai ungu besar itu, mampu menyelamatkan kita.
Dari malam-malam yang jahat, semoga.

Ah, jangan khawatir.. sayang.
Sebentar lagi pagi datang.

Lagi, mencari jari-jarimu di sela tidur.
Menepis halusinasi kau ada dalam jarak terdekat.

 

Blog Template by BloggerCandy.com