Wednesday, January 22, 2014

Dingin


Kau mulai terasa asing.
Saat aku tidur dan kau terjaga, untuk kemudian sebaliknya.
Kata-kata hanya menjadi bumbu pahit, menjadi pemicu ledakan yang diam-diam tersulut di dalam sana.

Malam itu, ...
Aku bercerita tentang keluarga kecilku.
Tentang aku yang disorongkan Ibu sebagai orang pertama.
Mungkin aku memang mulai lelah, mulai kalut dan frustasi.
Tentang visi yang mutlak dan tak terevisi,
ialah istana yang belum jua rampung hingga saat ini.

Tidakkah, bila aku boleh bermimpi di siang bolong.
Ada yang mengajakku hidup bersama, dengan menjamin keluarga kecilku juga?
Bukan yang menghina, bukan yang menyuruhku pergi meninggalkan mereka.
Cukup... diriku saja, yang berkata bahwa mereka bukan pribadi yang sempurna.
Engkau, cukup memberiku semangat.
Membantuku merapal jimat sakti bahwa semua akan baik-baik saja.
Tidak ada kah yang begitu?

Ah.. Bukankah aku terlalu naif?
Sewaktu aku berdoa pada-Nya dulu,
meminta kau yang menerima ada apanya,
yang melindungi dan menjaga,
juga tampan nan memesona?

Kini aku ingin lebih daripada itu,
karena aku belum bisa memenuhi mimpiku sendiri?

"Saya ingin mapan dan mandiri sebelum menikah, agar saya tidak merepotkan suami saya kelak... :)"

Bullshit. Karena aku belum mampu.
Atau memang tidak mampu.

Ah...
Dengkuranmu mengeras,
seiring dengan rasa yang mulai membeku, bersiap mati suri.

Haruskah aku lagi pergi?
Tanpa kompromi, tanpa toleransi.
Tanpa visi bersama, yang entahlah.. buram rasanya.

Kau ...
Bisakah, bila aku terus hidup bersamamu?
Merajut mimpi yang berjalan paralel,
antara aku dan kita.

Andai saja kita ialah aku ...

Saturday, January 4, 2014

Cangkang


"Middle age is that point in your life when you shift from seeing the future in terms of your potential and begin to see it in terms of your limitations..."



Am i going through this shit?
 
AM I?
AM I?
AM I?
AM I?
AM I?

Di kala pendapatan dua puluhan yuta pun tak pernah cukup,
 
hingga hanya bersisa nominal 1 dalam beberapa hari.

Membikin frustasi.


Sangat membutuhkan cangkang.

Kamu, cepat kembali. SEGERA.

 
Thursday, December 26, 2013

Rindu


Di tengah kesibukan memainkan puzzle imej dasar laut perairan Nusa Kambangan, bertemankan sepi dan gelisah berkepanjangan. Sebuah cerita mengajakku melambungkan ingatan sejenak ke masa lalu. Ke masa-masa paling nyaman di seluruh dunia, di Bandung yang selalu sedang tersenyum.. dahulu.

Ayahku tidak pernah menangis, di depanku.. mungkin. Selain saat itu. Ketika Ayah mulai papa dan kuberikan setangkai bunga guna hadiah ulangtahun Ibu, beliau menangis. Meracau. Bagiku, yang tidak pernah merasakan ada nuansa sendu semi romantis di rumah, hanya membisu.

Hingga pada suatu malam, kala layar Solitron kecil kami menayangkan sebuah cerita, Ayahku sedang duduk sendirian menyimak suatu momen, yang diam-diam tersedu. Ntah terharu, ntah apa. Dan aku hanya gagap dari kejauhan, teriris dan berpura tiada yang terjadi. Hanya bertekad dalam hati, suatu saat akan membawa terbang bersama burung besi ke kampung yang sudah lama dikunjungi.

Yang hanya bualan kosong, karena tidak akan pernah terjadi.
Aku rindu.
 






"Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu."
[Andrea Hirata: Sang Pemimpi] 
 
Tuesday, December 24, 2013

Gagal


She said anj*** to me.
Anj***. Anj***. Anjing~~~ di medsos.

Saya kira kamu mau bantu meringankan beban saya, dengan belajar lebih keras lagi.
Tapi saya salah.

Sebenci-bencinya saya pada kamu.
Yang membebani saya dengan kemewahan yang kamu inginkan.
Saya tidak pernah mengatakan anjing.

Anjing. Anjing. A-n-j-i-n-g.

Ah..
Ayah, aku salah didik.
Aku gagal. :(

Wednesday, December 18, 2013

Lost


Demi alam semesta,
aku sudah lupa bagaimana caranya berpuisi.

Bagaimana caranya mengungkapkan kata-kata pada benda diam yang tak bereaksi.
Pada gumpalan kabut yang kusimpan dalam hati, untuk diam-diam dinyanyikan sebelum tidur sebagai obat pelindung segala sepi.

Aku sudah lupa.
Bagaimana..
 

Ketika bagiku berlari tak lagi berarti.
Ketika mimpi-mimpi semakin tak nampak dan memburam.
Ketika kehidupan, tak lagi sesuatu yang menarik.

Ketika hanya ada kata dan rasa yang tak terbagi,
Untuk menjerit diam-diam.
Untuk mengaduh tanpa rasa sakit.

Ketika bagiku,
lebih mudah untuk menyerah dan berhenti.

Ah..
Sayang, cepat pulang...


 




 
Thursday, December 12, 2013

Documentary


Mendapat kiriman setelah sebulan lamanya menunggu dari sekelompok teman asing, yang meski banyak diantaranya penggunaan definisi yang kurang pas sehingga terdengar janggal, bahkan dilebih-lebihkan. Juga hal-hal yang tak penting malah menjadi fokus sementara point of view sebenarnya malah disamarkan.. tapi at all.. good work, pal! Thankyou! :)

Saturday, November 16, 2013

Quarter-Life-Crisis


Sepertinya topik ini sedang bergaung di lingkungan teman-teman wanita saya.
Terutama dalam hal jodoh.

#biru: aku mau mengundang kalian di hari berbahagia, aku bulan depan lamaran :)

#putih: wei jadi!


#coklat: tuhkan kamu yang nyusul, aku juga mau dong udah 25 nih cyin..

#hitam: aku juga mau dilamar :((

#ungu: aku jugaaaa..

#pink.budug: aku juga mauuuu !!!

#hijau: aku mau tapi belum ada pasangannya, cariin~

#pink: ayo pada nyusul, aku aja udah mau dua hihi.

Sssst.. Saya juga mau di *****.

Mau. Mau. Mau sekaliiiii. Tapi kini masih saya beri bintang.
Karena itu berarti semua kendali atas hidup saya akan berpindah tangan.
Karena itu berarti, yang nomor satu dalam hidup saya akan berubah.
Karena itu berarti, akan ada kompromi atas semua kewajiban-kewajiban yang selama ini saya pegang penuh.
Karena target saya belum tercapai.
Karena, saya belum mampu.. untuk berbagi.

Karena, saya masih ingin surga saya ada pada Ibu.
Pada telapak kakinya, dan saya rasa belum saatnya posisi itu dipindahkan saat ini.

Suatu hari nanti, Caca akan berkata iya.
Untuk menjadikan telapak kakimu.. surga bagiku.
Tunggu yaa! :)





Remember that life isn't a race:
http://www.buzzfeed.com/jessicamisener/10-signs-youre-having-your-quarter-life-crisis
 
Wednesday, October 30, 2013

Bagaimana


Lelaguan khas Betawi itu mengalun di kejauhan. Di tengah bingarnya kota padat Jakarta, terdengar gundah.

Aku yang tadi pagi terbangun dengan kesal, untuk kemudian makan dan menyendiri di tempat jemuran yang tersinari mentari pagi. Entah kesal untuk apa, kah untuk merasa dibohongi? Pengendalian diriku memang buruk, bahkan untuk merusak rencana hari ini ke kantor. Dua tahun melaut tapi dengan cicilan yang membengkak karena hutang menumpuk. Terasa sama saja apabila bekerja di darat. Oh impian, mengapa engkau kian terasa jauh sekali?

Teringat lelaki yang tertidur sepanjang hari di jauh sana. Iya, terasa sangat jauh. Yang menyita perhatian sepanjang waktu. Bisakah? Akankah ini bekerja dengan baik?

Tidak tahu. Manusia mana yang bisa mendahului takdir?

 

Blog Template by BloggerCandy.com