Monday, February 20, 2012

Yellow



Bagai deja vu. Oleh lagu-lagu.
Oleh jemari yang mahir mengurai nada.
Oleh wajah yang mengangguk-angguk mengikuti lagu.

Wangi coklat yang melekat.
Rintik hujan, senja merah jambu.
Kopi remah-remah. Mie instan rasa cabe.
Buku. Buku. Lagu.

Memori. Merongrong.
Ahh, tiba-tiba ingin melakukan olahraga ekstrem!!! :D

Forgive and forget.
Bagaimana jika, memang tidak bisa. Dimaafkan, juga dilupakan?
Bagaimana jika, jika.. memang tak bisa dibuang, bahkan untuk dibagi?

Ya, saya takut.
Untuk membuka pintu dan membiarkan orang lain masuk.
Melihat segala isi hingga ruang kesendirian satu-satunya.
Lalu pergi karena ketakpuasan, dengan meninggalkan jejak baru berbekas yang telah sukses menimpa jejak runyam yang lama. Yang masih hangat dan berwarna merah. Yang berdenyut perih setiap kali disentuh. Sakti.





♪ It's true,
Look how they shine for you,
Look how they shine for you,
Look how they shine for..


[Coldplay: Yellow] 


Friday, February 17, 2012

Ayam


Di suatu malam, berlatar pepohonan yang tak wangi:

Satu objek lahap memakan produk lembek instan, mengobati anomali perut elastis yang tak berfungsi seharian. Mungkin, sakit kangen? =))

1: Melirik penasaran. "Ngeunah kitu?"
2: Menyodorkan mangkuk plastik rentan. "Yeuh,tinggal sesendok sih.."
1: Ragu-ragu. Mencicipi seujung sendok. Menajamkan indera perasa.
2: "Kumaha?"
1: "Ngeunahan nu mang2 dorong ahh, ieu mah siga Milna!"
2: "Beda anjis, ieu mah gurih2 kumaha kitu.."
1: Menyodorkan kembali si mangkuk. "Tah eta! Loba MSG!" 
2: "Naha teu dibeakeun?"
1: "Pamaliii! Eta pan nu maneh, ngke rejekina didahar batur ceunah mah.."
2: "Eh,enya kitu?"
1: "Teuing ketang, wkwkwkw.."
2: "Nya bae we atuh, pan rejeki maneh geus beak. Dipatok hayam, hahahaha.."
1: "Yey nteu lah, urang mah tidur pagi. Pan asal pagi gak tidur moal dipatok?"
2: "Mana bisa kitu?"
1: "Bisa lah! Urang parebut heula jeung hayam. Karek sare, muahahahahahha.."
2: "Curang anjissss!"

Cukup.
Dua orang tersesat berbicara tentang rezeki dan ayam.
Andai malaikat bisa diajak berdiskusi, tentu dia bisa merefreshkan jiwa-jiwa penat bau rawa ini tentang siapa yang menang. Ah, bunguk!

Rezeki kan tak akan kemana, asal tak lelah dijemput.
Seperti jodoh.. ;p

Thursday, February 16, 2012

Chaos


Lalu Tatang.

Tatang yang membawaku terbang.
Secepat daru, sekuat bayu, sedamai ranu.
Memeluk Bumi, memutarnya hingga matahari berpijar.

Tatang.
Yang paham benar konsep benda tak bernyawa.
Kompas, mercusuar, setia berbinar.

Kemudian hening.
Tatang. Mati. Padam.

Lalu Tatang.
Tatang yang menbawaku tenggelam.
Tersangkut di palung terdalam.
Sekejap daru, sedahsyat bayu, sedingin ranu.

Menjadi meru, dalam biru.

Fin.

Layu Tatang


Banyak yang memihak, bertanya, menggurui, memberi masukan, memberi kesempatan.. Baik yang hanya dalam kuluman senyum meneliti benang tak nampak lalu diuraikan dalam sebuah artikel, atau juga yang mabuk dengan mengeluarkan ancaman tanpa sadar hanya berbuah masuk kuping kiri keluar kuping kanan.

Buku cerita itu berhenti, begitu saja. Bagai terguyur air lalu dipanggang terik lalu kaku selamanya. Terbuka pada lembar usang, tak bergerak. Tanpa bisa ditintai lagi, dibolak-balik lagi, dibaca-baca hingga pening, bahkan untuk dikemas dan dibakar hidup-hidup.

Entah apa dan bagaimana, saya sudah lupa bagaimana menyenangkannya memulai sebuah cerita. Dari sebuah prolog yang mendebarkan,sambung-menyambung, sebuah epik, tanpa harus merobek lembar lalu yang sudah ada. Bagaimana rasanya, seniat itu mempertahankan tinta yang mulai habis karena konflik yang berkepanjangan,atau melindungi lembaran rapuh dari buram akibat air hujan. Sudah, begitu saja tergeletak. Ya, tanpa mau disentuh, tanpa mau dibaca ulang dan membuat resolusi-revolusi.

Karena mulai detik itu, saya menganggap buku cerita itu tak pernah ada. Bahwa saya tak pernah punya, semuanya. Bahwa saya, tidak pernah menulis apa-apa. Hanya kosong, dengan ketergesaan. Di tengah lautan dengan tatapan harap pada daratan yang jauh. Rindu akan memijak Bumi, tetapi takut untuk mengarungi samudera .. sekali lagi. Sehingga kekonyolan itu berujung pada buah pemikiran yang buruk tentang badai beliung yang menenggelamkan perahu pada dasar laut. Agar.. titik, tak perlu lagi pergi kemana-mana. Karena terus berada di lautan itu sakit, tapi menuju ke daratan pun tak berani. Dan saya benci, seumur hidup, dan selamanya.. untuk kembali memercayai tangan lain yang katanya menunggu saya pulang. Itu bohong. Saya skeptis, boleh?..

Mengetuk-ketuk jemari dengan ritme asal pada lantai kayu yang basah terciprati hujan. Berpikir, merenung. Tapi nihil. Masih, dan selalu, tak bertemu dengan jawaban. Kemana serpihan puzzle yang dahulu terurai tak terbatas lalu hilang sebagian. Dia, sudah tak bisa merasa lagi. Dia, sudah tak sempurna. Dia, mati.

Dalam kesendirian, kutemukan ia.. ketakutan.
Pasti.

Hei, pengecut.
Still alive?!

Sunday, February 12, 2012

Ilmu Logika


Oke.
Lupakan tentang gaya gravitasi. Terbanglah bersama waktu, tak lagi kusimpan dalam guci.
Mungkin.. semoga.




Dan..selamat tiga tahun!
Tanamkan kreativitas tumbuhkan tanpa batas..
di GEODESI NOL TUJUH~ :)

*maaf,tahun ini tak berkunjung..

Sunday, February 5, 2012

Gila Babik



Seorang pemuda secara tiba-tiba duduk, menatap heran, bicara tentang matahari yang belum tampak. Tentang wajah yang menua.

Dia memutar sebuah video dengan sinyal yang dipaksakan, menyalakan korek pengganti lilin, membuat mahkota dari bungkus wafer.. untuk membuatku menandak-nandak menari di deck seatruck dengan bendera merah-putih yang berkibar bersama gelombang. Juga kerajinan tangan lain, sebuah sapi imaginer yang cerdas mengecap kata kebahagiaan.

"Buang saja.." kikiknya di tengah panas matahari yang menyengat dan bulir keringat yang menetes satu-satu.

Kini, kutatap benda itu. Suatu coklat kopi, yang kubawa selalu tapi jarang kupakai. Yang percakapan hanya datang sewaktu-waktu, seiring penggunaannya yang belum kusadari sebagai kewajiban.. hanya kebutuhan. Memori kemarin yang sungguh melekat, yang masih ramai dibicarakan orang sebagai kisah paling unik selama sejarah. Orang putih terang-terangan, orang hitam terang-terangan, orang abu tersembunyi.. atau orang yang abstrak tapi diam-diam menusuk, tak terdengar, yang berbicara bagai kelambu tapi hanya manis di depanku. Kamu, mungkin juga ingin bersama palung di dasar lautan? :))

Gejolak ini fluktuatif, dan tak terdefinisi. Makin kupikir, makin ku menolak gravitasi. Tebak saja, baru beberapa pekan lalu hanya ada janji saklek tentang nilai nol. Lilin yang menyala redup lalu padam, dalam harapan namun kubuang jauh karena kode yang samar. Lalu kembali terang, tapi saru.. buat apa? Buat apa ku peduli? Rasanya, bagai memilah dan memilih jalam yang tak ada.. yang kubawa pening dalam bingkai jendela yang temaram.

Aku, 22 tahun. Ialah manusia kenangan yang kelabu akan target, akan usaha untuk meledakkan kepingan memori usang. Aku lah bodoh untuk mengurai benang kusut-masai, menggulungnya lalu dibuang ke samudera. Dan, keledainya lagi.. terlalu terbuka untuk membiarkan pihak lain yang mengurai benang, mengikatnya, lalu menimpa dengan benangnya sendiri. Timpa-menimpa, tanpa memberi tahu.. bahwa benang kusut tu masih menancap di kepala, jauh di ubun-ubun, dan tak terkendali.

Ah, ingin pergi. Ke tempat sunyi tak ada siapa-siapa. Hanya ada kesunyian, tanpa berkoper-koper memori.

Leave all that you can leave behind.
Cherish all day with its unique blessing.
Sic itur ad astra!! And let the gravity do the rest.


[MoO, 3 Februari 2012]

Sunday, January 29, 2012

Ruang


Detik-detik seperti ini, yang bergerak lambat menyiksa.. ketika semua orang sudah kelelahan sekembali menikmati kapal bergoyang plus cipratan ombak bermandi matahari. Ketika mandi sudah, makan sudah, ngopi + merokok sudah, tersisa mata-mata lelah menonton bola.. atau yang bergelimpangan menghubungi kekasih, bahkan istri.

Saya berbaring terpejam, menanti hembusan angin dari mesin berputar di lantai. Tak ada, tak ada yang terpikirkan. Kosong. Tapi boleh tahan. Tak terasa, sudah masuk 3, angka yang rasanya sudah mati. Tercabut hingga akar dan meranggas seperti dedak. Biarlah, bukan prioritas kini. Saya masih punya 5 jari yang bisa digunakan untuk menghitung target.

Hampir kemudian tiap malam saya sempatkan hubungi nomor kontak yang diawali huruf B urutan kedua, untuk melepas rindu akan rumah, yang baru saja saya tinggalkan dua minggu lamanya. Saya hapus memori-memori lama pada kamera oranye, yang gambar pertamanya ialah sosok tidur orang berselimut garis. Dua image itu, yang selalu buat saya salah tingkah.. ketika orang tak sengaja menekan tombol kanan dan bukan kiri. Hampir merusak momen farewell dengan kawan baik di suatu malam. Selalu menghasilkan pertanyaan 'saha ieu' yang saya jawab cepat 'batur' dengan sok tak mengacuhkan tatapan tanda tanya. Atau senyum-senyum teman kecil yang hanya berkomentar sedih.. 'Ngil, eta kamera pribadi maneh nya? Hihi..'

Memori. Terlalu banyak memori yang hilang. Memori kamar mahal yang 90% nya dipakai bermimpi, memori hari kelulusan yang sempurna, memori lampu jingga, memori masa-masa sulit dengan teman lama yang pun menghilang, memori papeda lengket yang juga hilang, memori teman masa kecil yang menyaru bersama angin.. terkubur satu-satu, hilang kabar satu-satu, yang hanya bersisa angan ingin bertemu. Ah, saya tak menyesal jauh berlari, karena bodoh kalau kau samakan dengan yang jelas berbeda.

Kusisakan beberapa gambar gaya si pipi tembem bergigi dua dengan kantung mata besar. Dengan yang lain kupadatkan dalam kepala. Juga yang lain, yang muncul tak terduga bagaikan momok besar yang ingin kututup-tutupi dengan selimut tebal.

Disini nyaman. Disini bahagia. Disini, saya berlatih dan belajar.

Tapi, saya masih ingin pulang ke rumah. Rumah, dan rumah. Meski tempat ini tak mengizinkan saya menangis bak anak kecil kehilangan boneka kelinci kumal yang tak terbawa saat pergi jauh, merasakan ada yang hilang saat hanya bisa merangkul selimut tipis.. yang bergaris-garis, dan mencari-cari dalam alam bawah sadar. Sebuah dekil, berbaju pohon dan rusa natal, sobek sana-sini, dan tak berhidung. Bikin kangen. Ya, bikin kangen. :|

Restoran kepiting terkenal, suatu senja..

OmB: "Vid, anjis masih lu kasih nama itu?"
HjF: "Iya Oom. Hahaha emang kenapa?"
OmB: "Gw ganti ah.."
HjF: "Jah..kenapa?"
OmB: "Gw lelaki Vid.. Gak boleh gitu, lu harus move on, men. Nih, Tatang ya sekarang namanya!"

Lalu Tatang. Yang ternyata sama saja maknanya karena nama itu bersejarah slang dari panggilan sayang Totong. Tak kuaseeeee~

Saturday, January 21, 2012

Absurd



Senipah, dalam keremangan malam..

Ini.. kebebasan ini.. mengamati keong besar yang berjalan lambat di tanah basah, menghirup campuran wangi pekat antara bekas hujan yang menyaru dengan tanaman entah apa namanya, disertai segelas kopi.. bukan kesukaan, tapi sempurna, untuk melukis sebuah senyuman lebar yang kutunggu sudah lama. Bukan sekedar pelarian diri mungkin, lebih tepatnya sebagai ajang relaksasi.

Di dalam ramai, sekumpulan Bapak-bapak yang mengobrol santai di depan televisi, atau Abang-abang yang riuh memainkan dotA di lantai atas. Ada.. ada makhluk lainnya juga disini.. Yah, di rumah sebelah tepatnya, yang membantu masak dan cuci. Ah, entah bagaimana khawatirnya Ibu jika tahu saya 'sendiri', hehe.. Maaf, percayalah, banyak dari mereka yang kukenal baik dan paham menjaga 'adik'nya yang manis. ;p

Rumah singgah ini dikelilingi kebun lebat yang luas, yang sesekali babi hutan atau bahkan anak kobra melintas disana. Sekali, ular air memasuki ruangan. Inilah rumah kita, men! Akhirnya, saya keluar dari Ibukota, dari suasana yang bising dan lelah, dari sepi mengucap selamat malam pada bantal dan guling yang bisu, dengan listrik yang separuh padam tepat pukul 9 malam.

Di depanku kini rimbun, juga gelap. Sesekali masih banyak kendaraan yang menderu melintasi jalanan yang bagus tak bercacat. Besok, saya on board! ON BOARD! Bayangkan berapa kencang pekikan semangat saya ketika diajak 'Pak Haji Boss' untuk ikut bertualang, kembali di Rawa Mahakam.

Ada khawatir disana, tentang rumah yang tak sempat kukunjungi sebelum terbang. Tentang lelaki yang baru saja menginjak separuh abad tapi kini mesti menambah jadwal pembersihan menjadi 3x dengan biaya sendiri demi memperpanjang umur eksistensi di dunia. Yang dari organ penyaring, lalu pemompa darah, lalu kini penghilang racun. Tuhan, apa lagi kini?..

Pasti, meski lambat, akan kudongkrak laju roda kita. Kutitipkan tetek-bengek rumah tangga padamu, hai yang cengeng tapi kuyakini lebih dewasa. Sesuai namamu, prajurit mereka. Relakan aku jauh, menarik kereta dengan kamu masinis di dalamnya. Kususut pula sesuatu di ujung mata, yang muncul tak terduga saat yang kecil dan tak tahu apa-apa bertanya, selalu itu.. tentang pulang. Tentang pintanya pada asesoris batu kesukaan yang habis dibeli pasti langsung dihilangkan, lalu tertawa tersedak mual-mual ketika dengan polos bertanya 'Kakak.. pergi sama Mas --- ya?' lalu terdengar tertawa Ibu di kejauhan, yang langsung ia perbaiki cepat.. 'Eh, Kakak kayak Amirah ya? Kerja?..'

Iya sayang, lama mungkin aku tidak disana. jadilah anak baik, dan jangan pernah takut.. akan yang hanya bisa terlihat dan terdengar olehmu tapi tidak oleh siapa-siapa. Dengar, mereka bukan apa-apa, aku tahu kamu pemberani.. ya? :)

Dengan sinyal yang hanya satu atau dua, bahkan nol di lantai dasar.. sesekali, bercerita tentang khawatir yang lain pada orang yang kini hanya berbeda satu jam saja. Tentang siklus yang sudah mundur lebih dari dua pekan, dan tentu tanpa sarana untuk mengklarifikasi disini. Yah, doakan saja, bukan berarti apa-apa. Aku kuat, benar? Bahkan aku pun tak percaya dia sekuat itu! Hehe.

Cukup. Meski jauh berbeda dengan setahun lalu.
Saat dimana masa-masa pukul delapan adalah waktu yang ditunggu.
Saat tidur sendiri tapi merasa tidak, saat lelap dengan mudahnya didapatkan dengan panduan suara merdu dari seberang lautan.

Ya, kamu.. Tidak wajar ya memang, kalau aku masih bertanya kapan kamu pulang? Meski aku tahu kini kamu tak lagi tersesat, kamu memang sudah berubah arah adanya. tetapi, ingatanku padamu selalu muncul dan berkembang biak tak terduga, seperti kadal hitam yang meluncur cepat tiba-tiba di balik rerumputan..

"Ibu,aku mau yang itu!"| "Yang mana?.."|
"Yang merah,yang berani!Itu bagus!"| "Jangan ah, yang itu terlihat tidak baik, Nak.."|
"Aaa,tapi aku suka yang itu.Belikan,ya?"| "Baiklah,tapi Ibu hanya akan membelikanmu satu.Kalau pecah,tak ada lagi.."

Lalu gadis kecil itu mendapat yang diinginkannya. Saking senangnya,dia pegang terlalu erat.
Lalu meletus,melukai jemari,dan menangis meraung-raung.
Tidak dapat apa-apa. Hanya sakit yang berkedut kepanjangan.
Tapi dia konsisten. Dia hanya dapat satu, yang tinggal kepingan karet, yang dia simpan dalam kotak cantik di samping tempat tidur. Yang dia pandangi setiap malam dengan bangga, karena telah berani memilih yang merah, atau memilih merah yang berani..

 

Blog Template by BloggerCandy.com